JAKARTA – Ekonom PT Bank Danamon Indonesia, Anton Gunawan mengatakan, rupiah tahun depan masih bergantung pada sentimen. Jika melihat dari sisi fundamental dan real exchange rate, ia memproyeksikan rupiah berada pada level Rp 11 ribu. “Kita tak berharap Rp 12 ribu,” ujar dia.

Sampai saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan menguat pada semester II 2014. Rabu (4/12), rupiah ditransaksikan pada level Rp 11.933, atau terdepresiasi sebesar 22,8 persen ytd.

Direktur Eksekutif Departemen Riset dan Kebijakan Moneter, Dody Budi Waluyo Bank Indonesia (BI) menambahkan, yang menentukan level rupiah adalah pasar. Sementara tugas BI hanya menjaga volatilitas atau gerakannya.

Dody mengatakan, pemerintah tak menginginkan level yang melemah secara tajam. Tetapi nilai tukar yang lemah adalah suatu kondisi yang memang diperlukan ekonomi. “Karena nilai tukar membantu perbaikan defisit transaksi berjalan,” ujar dia.

Dody mengatakan, masalah Indonesia saat ini adalah defisit transaksi berjalan. Hal tersebut yang membuat rupiah melemah. Karenanya, hal ini yang harus jadi prioritas pertama untuk diperbaiki BI. Prioritas kedua adalah menstabilkan nilai tukar.

Kebijakan moneter tak bisa berdiri sendiri. Dody mengatakan, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang belum selesai, yakni melakukan reformasi struktural. |ROL|