Pengunjung beraktivitas di dekat layar papan elektronik yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/10). – JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Aliran dana ke pasar modal diperkirakan semakin bertumbuh pada tahun depan seiring dengan tren bullish Indeks harga Saham Gabungan (IHSG), membaiknya ekonomi makro Indonesia, dan peningkatan belanja jelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019.

Analis Recapital Sekuritas Indonesia Kiswoyo Adi Joe menyampaikan, periode 2018 yang juga menjadi tahun politik akan mengerek banyaknya aliran dana ke pasar modal, terutama pada semester I/2018. Pasalnya, dana-dana partai akan diputar terlebih dahulu untuk kemudian dibelanjakan pada paruh kedua.

“Saat tahun politik, semester I akan banyak dana masuk ke pasar modal. Namun, dikhawatirkan dana tersebut kedua pada semester II,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (17/11/2017).

Namun demikian, IHSG masih dalam tren bullish seiring dengan meningkatnya perekonomian. Sentimen ini turut mendongkrak sejumlah aksi korporasi emiten ataupun perusahaan tertutup untuk melantai di bursa.

Adapun aksi korporasi emiten yang berpotensi meningkat pada tahun depan ialah penerbitan obligasi. Pasalnya tingkat suku bunga yang rendah memicu perusahaan untuk menerbitkan utang dibandingkan meminjam ke perbankan.

Staf pengajar FEUI dan pengamat pasar modal Budi Frensidy menyampaikan, kinerja emiten, khususnya di sektor infrastruktur, perbankan, komoditas, dan properti akan membaik pada tahun depan. Performa tersebut membuat prospe IHSG cenderung bullish.

“Ada peluang IHSG pada 2018 mencapai 6.500. Jadi pergerakan indeks turut menggambarkan peningkatan PDB tahun depan di level 5,3%,” ujarnya.

Terkait momentum menjelang Pilpres, Budi meyakini periode semester I/2018 akan banyak dana masuk ke pasar modal. Oleh karena itu, saat tersebut sangat tepat dimanfaatkan bagi perusahaan untuk melepas sahamnya, baik right issue maupun IPO.

“Memang ada kekhawatiran dana tersebut keluar lagi dari bursa mendekati Pilpres. Tetapi secara keseluruhan indeks masih bullish,” paparnya.

Senior Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyampaikan, proyeksi kondisi makro Indonesia yang lebih baik pada 2018 menjadi salah satu faktor yang membuat investor pasar modal optimistis. Mereka meyakini tren IHSG turut menanjak seiring dengan meningkatnya PDB.

Momentum tersebut dapat dimanfaaatkan perusahan untuk melepaskan saham di BEI. Aksi korporasi lainnya yang diperkirakan akan marak ialah obligasi.

“Tahun depan ada kemungkinan semakin banyak perusahaan IPO, khususnya di bidang start up yang kian bermunculan,” ujarnya.

Sebelumnya Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menargetkan penghimpunan dana di pasar modal pada 2018 mencapai Rp673,94 triliun. Jumlah itu terdiri dari SBN sebanyak Rp414,5 triliun dan IPO, right issue, RDPT, DIRE, sukuk/obligasi korporasi sebesar Rp259,44 triliun.

Per 10 November 2017, pasar modal telah menggalang dana sebesar Rp215,09 triliun melalui penawaran umum IPO, Right Issue, dan obligasi.



Source link