Karyawati mengabadikan ikon patung Banteng Wulung yang berada di kawasan Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (14/8). – JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Emiten Indonesia berharap otoritas bursa lebih banyak memperkuat dan meningkatkan kapasitas anggota bursa dalam menjaring investor ritel untuk meningkatkan likuiditas pasar modal.

Isakayoga, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, mengatakan bahwa dalam 40 tahun terakhir Bursa Efek Indonesia sudah sangat baik. Kendati begitu, masih banyak hal yang perlu ditingkatkan.

Selain perlu untuk terus meningkatkan jumlah emiten, Dia berharap BEI lebih efektif dalam menjaring investor di pasar modal. Menurutnya, selama ini belum cukup jelas pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab dalam upaya untuk meningkatkan likuiditas pasar.

Isakayoga menilai, selama ini BEI sudah melakukan upaya yang justru melebihi kewajibannya sebagai otoritas yang menyelenggarakan pasar modal. Upaya menjaring investor yang dilakukan oleh BEI selama ini seharusnya menjadi ranah kegiatan dari para anggota bursa.

“Investor itu kan milik sekuritas, ranahnya sekuritas, sehingga seharusnya perlu lebih diupayakan bagaimana mendorong agar sekuritas itu menambah jumlah investornya. Anggota bursa itu harus diperkuat dan itu butuh modal besar,” katanya saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, Selasa (15/8/2017).

Saat ini anggota bursa aktif lebih dari 100 badan usaha, tetapi skala bisnisnya dan kapasitasnya berbeda-beda. Menurutnya, upaya memperkuat anggota bursa ini perlu menjadi fokus penting dalam 10 tahun ke depan.

Hal tersebut pun menjadi penentu bagi upaya bursa untuk menambah jumlah emiten. Cita-cita ideal untuk menjadi bursa terbesar di Asia Tenggara akan terganjal bila upaya memperbanyak emiten terganjal oleh terbatasnya daya serap investor karena jumlah yang terbatas.

Padahal, saat ini pemerintah memiliki wacana besar untuk mendorong BUMN dan anak perusahaan BUMN, perusahaan multinasional dan perusahaan raksasa yang memiliki postur utang bank lebih dari Rp1 triliun untuk melantai di BEI.

Sementara itu, dari sisi emiten, Isakayoga berharap otoritas bursa dapat mempertimbangkan untuk menurunkan biaya pencatatan saham. Menurutnya, dengan semakin banyaknya emiten yang melantai di bursa, biaya emisi seharusnya bisa semakin ditekan. Hal ini sudah lama diusulkan AEI, tetapi belum mendapat perubahan yang berarti.

Menurutnya, kebijakan pengenaan biaya listing yang dihitung berdasarkan kapitalisasi pasar justru menimbulkan tekanan bagi emiten. Padahal, kapitalisasi pasar terbentuk oleh mekanisme pasar, tetapi risikonya justru ditanggung emiten dengan membayar biaya lebih tinggi. “Bukannya dapat apresiasi karena kapatalisasi meningkat, justru seolah-olah dapat pinalti,” katanya.



Source link