[ad_1]


Salah satu armada Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta.

Bareksa.com – Enam tahun tercatat di Bursa Efek Indonesia, harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) telah mengalami penurunan 54,67 persen. Kinerja saham perusahaan maskapai milik negara ini memang tak lepas dari kinerja keuangannya.

Saat pencatatan perdana (IPO) pada 11 Februari 2011, saham GIAA dihargai Rp750 dan per 10 Februari 2017 berada pada level Rp340. Kinerja saham GIAA sejak IPO memang tidak terlalu cemerlang. Setelah menutup perdagangan pada hari pertama IPO turun 17 persen ke level Rp620, saham GIAA menutup tahun 2011 turun ke level Rp475.

Kemudian, satu setengah tahun berlangsung, saham GIAA menuju puncak tertinggi saat menutup perdagangan 17 Juli 2012 di Rp770. Sayang, sejak saat itu, kinerja saham GIAA terus menurun walaupun sempat beberapa kali berupaya menanjak lagi.

Berkaitan dengan kinerja keuangan, pada 2011 laba bersih Garuda Indonesia mencapai US$64,22 juta dan kemudian naik 72,59 persen menjadi US$110,84 juta pada akhir 2012. Catatan ini menjadi laba tertinggi Garuda Indonesia sebelum akhirnya mengalami penurunan 89,89 persen menjadi US$11,2 juta di 2013.

Bahkan pada 2014, Garuda Indonesia malah merugi sebesar US4368,91 juta sebelum akhirnya membukukan keuntungan lagi US$77,97 juta pada 2015.

Grafik: Catatan Laba Garuda Indonesia Periode 2011-2016 (dalam jutaan US$)

Sumber: Laporan Keuangan Perseroan

*Hingga 30 September 2016

Kinerja Garuda tahun 2016 masih kurang baik akibat tekanan dari pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS dan penurunan pendapatan akibat persaingan dengan penyedia penerbangan murah (low cost carrier/LCC), meski terdapat penurunan harga minyak yang bisa menghemat biaya operasional. Garuda pun membukukan rugi bersih US$43,62 juta sepanjang Januari-September 2016, membalikkan laba bersih pada periode sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo mengungkapkan, pihaknya masih berjuang menjadi besar dan kuat dalam keberadaannya di BEI pada tahun ke enam ini. “Kami juga ingin lebih kokoh untuk bersaing di domestik, regional, maupun global,” ujar Arif, Senin, 13 Februari 2017.

Dia pun yakin memasang target pertumbuhan 8,7 persen. Untuk menopang target tersebut, perseroan akan menambah lagi unit pesawat, di antaranya 5 unit Airbus 320, dan produk terbaru Boeing 737 Max sebanyak satu unit. (hm)

[ad_2]

Source link