[ad_1]

Indonesia harus menjaga kestabilitasan perekonomian.


VIVA.co.id – Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian di Indonesia. Sebab, kerja sama Inggris dan Indonesia tidak terlalu besar, baik dari perdagangan maupun investasi.


“Makanya, kita jangan hanya melihat sisi negatifnya saja, instabilitas itu sebenarnya juga ada peluangnya,” kata Faisal Basri di kawasan SCBD Jakarta Pusat, Jumat, 24 Juni 2016.


Lain halnya seperti negara Jepang, Korea, Singapura, dan Malaysia, karena semua negara tersebut mempunyai hubungan ekonomi yang sangat baik dengan Inggris.


Di samping itu, Faisal menjelaskan, inti permasalahannya, di mana terjadi penurunan nilai tukar poundsterling. Sedangkan hal tersebut menjadi kesempatan Amerika, untuk bisa menambah nilai tukar dolar AS.


“Dari menurunnya nilai tukar poundsterling itu secara otomatis dolar Amerika, dengan perlahan meningkat. Sehingga, berdampak merosotnya nilai rupiah,” kata Faisal.


Maka dari itu, Indonesia harus menjaga kestabilitasan perekonomian, walaupun Brexit tidak memiliki pengaruh signifikan.


“Intinya, nilai poundsterling melemah, dolar meningkat, dan efeknya rupiah melemah juga. Ini instabilitas dunianya jadi yang membuat kita lebih gonjang ganjing. Bukan poundsterling-nya ke Indonesia, tetapi instabilitas yang terjadi gara-gara Brexit menciptakan volatilitas,” katanya. (asp)













BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Load More…

[ad_2]

Source link