NERACA

Jakarta – Sukses membawa perusahaan starup Kioson mencatatkan sahamnya di pasar modal, mendorong bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperbanyak perusahaan starup potensial lainnya untuk listing. Oleh karena itu, pihak BEI membuka pintu selebar-lebarnya bagi perusahaan rintisan atau start up yang ingin masuk ke pasar modal.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan, mendorong perusahaan starup go public merupakan bentuk dukungan pasar modal terhadap industri tersebut dan juga bagian dari pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Selain itu, guna mendukung perusahaan starup go publik, lanjut Tito, pihak telah banyak melakukan terobosan dengan memangkas peraturan yang ada. “Kami sudah menyederhanakan peraturannya dan sudah tidak sulit. Persoalannya mungkin lebih terhadap market infrastruktur dan kesiapan broker,”ujar Tito di Jakarta, kemarin.

Tito menjelaskan, salah satu yang mungkin membuat para startup sulit melakukan IPO dari sisi laporan keuangan. Sebab saat ini belum ada ketentuan cara menghitung aset dari bisnis start up yang masih berupa ide dan program.”Startup itukan anak muda kebanyakan yang bikin, modalnya kecil. Padahal valuenya di programnya dia. Nah di negara belahan dunia lain program bisa dihitung kapitalisasi, tapi di Indonesia belum bisa. Itu kita sedang tunggu dari IAI,” jelasnya.

Sementara untuk proses lainnya, Tito menegaskan sudah memberikan yang terbaik. Bahkan para start up yang belum mengantongi laba sudah bisa mencatatkan sahamnya di papan pengembangan dan buktinya sudah ada PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. Tito berharap, masukan apapun terkait kebijakan yang dianggap menghambat start up untuk IPO bisa disampaikan langsung ke BEI. “Ya kalau ada proses yang mempersulit tolong beritahu apa itu? Karena kami di bawah OJK bukan Kemenkeu. Jangan terkesan BEI seperti mempersulit,”tandasnya.

Sebelumnya, dalam acara Ideafest 2017, Sri Mulyani menjawab salah satu pertanyaan terkait dengan pemberian kesempatan kepada pengusaha rintisan mendapat aliran modal dari masyarakat melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).”Kita tengah membahas bagaimana create bursa itu menjadi tempat supaya bisa menjadikan orang dapat modal tanpa proses yang panjang,” kata Sri Mulyani.

Oleh karenanya dibutuhkan perbaikan-perbaikan agar masyarakat dengan mudah mengakses pasar modal.”Bagaimana me-listing-nya, apakah prosedur panjang, kan dulu kalau orang mau listing laporan keuangannya diaudit oleh akuntan publik, harus sudah berapa tahun dan seterusnya. Ini akan disederhanakan, sehingga orang tidak perlu track record-nya panjang, tapi dia punya biggest idea dan panjang untuk dijual dan bisa,” jelas dia.

Asal tahu saja, selain Kioson ada PT Gunung Sewu, PT Agate Internasional dan 113 perusahaan lainnya yang berpotensi mengikuti jejak perusahaan terbuka sebelumnya. Country Leader Deloitte Indonesia, Claudia Lauw Hie Hoeng mengatakan, untuk menjadi perusahaan terbuka melalui initial public offering perlu persiapan yang matang.”Tetapi melalui perencanaan dan pemahaman yang tepat, maka perusahaan tersebut dapat mencapai tujuannya,”ujarnya.



Source link