Kamis, 10/08/2017

NERACA

Jambi – Mendukung pengembangan industri kreatif dalam akses pendanaan, khususnya perusahaan starup, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyediakan fasilitasi akses permodalan di pasar modal dengan sejumlah mekanisme.”Perusahaan ‘startup’ itu kita berikan fasilitas berupa pelatihan dan pemahaman tambahan yang nantinya supaya mereka bisa mencari modal pendanaan untuk perkembangan perusahaannya,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jambi, kemarin.

Perusahaan kecil atau perusahaan rintisan ‘startup’ tersebut diberikan pemahaman melalui program IDX inkubator dengan difasilitasi para pemodal besar untuk mencari pendanaan atau modal.”Misalnya perusahaan ini dipertemukan dengan pemodal, jadi untuk memperoleh pendanaan itu tidak harus melalui penawaran IPO, tapi bisa kita pertemukan dengan pemodal,”jelasnya.

Sampai saat ini, kata Samsul, telah ada sekitat 45 perusahaan rintisan yang tergabung pada program IDX inkubator tersebut. Perusahaan ‘startup’ yang tergabung dalam program ini juga didorong untuk go public atau mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Selain itu saat ini untuk mendorong perusahaan ‘startup’ agar dapat melantai di bursa efek, pihak OJK telah menurunkan aset di bawah Rp50 miliar perusahaan ‘startup’ telah dapat melakukan penawaran saham perdana atau Intial Public Offering/IPO.

Hal ini berbeda dengan aturan sebelumnya, dimana untuk bisa IPO aset minimal harus Rp100 miliar. Dengan kelonggaran ini saat ini, menurut Samsul, telah ada satu perusahaan yang bergerak disektor perdagangan e-comerce sedang memproses untuk mengajukan penawaran umum.”Saat ini untuk perusahaan startup yang sudah go publik memang belum ada, tapi saat ini ada satu perusahaan disektor e-comerce sedang dalam tahap mengajukan IPO,”ungkapnya.

Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida pernah mengatakan, hadirnya IDX inkubator ditargetkan 1.500 perusahaan startup melantai di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 2022. Nurhaida menjelaskan, jumlah perusahaan startup di Indonesia sampai sekarang sudah mencapai sekitar 60 ribu. Jika dapat membina 1% dari jumlah start up itu atau sebanyak 600 startup maka ditargetkan 300 startup dapat melantai di BEI tiap tahun selama lima tahun.”Itu dalam lima tahun sebanyak 1.500 perusahaan startup bisa jadi masuk ke pasar modal,”ujarnya

Jumlah 1.500 startup yang berpotensi untuk IPO, kata Nurhaida, bisa membuat likuiditas pasar modal Tanah Air menyalip Singapura dan Malaysia. Kalau itu terwujud, maka Indonesia dapat menjadi perekonomian ketujuh terbesar pada 2030. Maka untuk mewujudkan target ini, IDX Incubator menjadi solusi buat tambahan modal perusahaan start up. Selama ini masalah itu jadi halangan utama untuk berkembang.”Kita lihat startup jadi penopang perekonomian, perlu pemberdayaan yang juga menjadi program pemerintah. IDX Incubator diharapkan jadi solusi permodalan yang dihadapi,” ujar Nurhaida.

Nantinya, para startup yang bergabung dalam IDX Incubator akan dibina secara berkelanjutan sampai menjadi perusahaan yang dapat memonetisasi bisnis mereka dan diharapkan dapat memenuhi persyaratan untuk tercatat sebagai emiten di pasar modal. (ant/bani)



Source link