BEI: Penurunan Suku Bunga Acuan Positif bagi Pasar Modal
Rabu, 23 Agustus 2017 | 16:13

Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia Samsul Hidayat. Foto: ISTDirektur Penilaian Bursa Efek Indonesia Samsul Hidayat. Foto: IST

JAKARTA-
Bursa Efek Indonesia menilai, kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku buga
acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) akan berdampak positif bagi perekonomian
nasional yang akhirnya dapat berdampak positif pada industri pasar modal.

“Secara teori, salah satu faktor untuk menggerakan perekonmian yakni
dengan melonggarkan suku bunga. Kalau tingkat suku bunga diturunkan, aktivitas dunia
usaha akan meningkat. Nah, akhirnya investasi di portofolio pasar modal juga
akan menjadi lebih baik,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul
Hidayat di Jakarta, Rabu.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Agustus 2017 memutuskan
untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 4,75% menjadi
4,50%, dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 bps menjadi 3,75% dan
Lending Facility turun 25 bps menjadi 5,25%, berlaku efektif sejak 23 Agustus
2017.

Ia mengatakan bahwa dengan kebijakan Bank Indonesia itu maka imbal hasil produk
investasi di pasar modal akan lebih menarik dibandingkan produk perbankan
seperti deposito.

“Indeks suku bunga akan turun, baik bunga pinjaman maupun deposito, tentu
ini akan memberi imbas yang bagus pada kegiatan perekonomian dan pasar
modal,” kata Samsul Hidayat.

Menurut dia, kebijakan Bank Indonesia itu juga akan berkorelasi dengan target
pertumbuhan ekonomi nasional pada 2018 mendatang sebesar 5,4%.

Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Silvano Rumantir mengatakan
bahwa kebijakan penurunan suku bunga akan membuat beban pembiayaan menjadi
lebih terjangkau sehingga positif bagi pelaku usaha.

“Logika pasarnya, dengan penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate ini maka cost of funding bisa tetap terjangkau.
Saya kira ini masuk akal karena kita lagi banyak kebutuhan konsumsi. Nah,
supaya konsumsi bisa naik mau tidak mau perusahaan juga harus bisa tumbuh dan
bisa menggalang dana dengan harga terjangkau. Ujungnya nanti, akan menciptakan multiplier effect,” katanya.

Dengan kebijakan Bank Indonesia itu, ia mengaku optimistis indeks harga saham
gabungan (IHSG) bisa mencapai level 6.100 poin hingga akhir tahun ini menyusul
tambahan sentimen positif dari kebijakan Bank Indonesia.

“Pandangan kami IHSG mencapai 6.100 poin hingga akhir tahun ini. Sekarang
indeks di level 5.900 poin. Indikator ekonomi masih under control, jadi kita optimis,” ujarnya. (gor/ant)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Source link