Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.

Setiap manusia pasti memiliki kesalahan karena memiliki nafsu. Orang yang baik adalah apabila ia melakukan kesalaha akan langsung meminta maaf dan bertaubat kepada Allah SWT atas apa yang pernah dilakukan dengan sekurang-kurangnya membaca istighfar. Adapun orang yang keji adalah apabila melakukan kesalahan ia tidak pernah sadar sehingga Allah SWT menurunkan siksa neraka kepadanya.

Maka dianjurkan kepada setiap manusia untuk berdzikir dan beristighfar kepada Allah SWT sebagai bentuk taubat yang menyertai aktivitas sehari-hari. Allah memerintahkan manusia untuk bertaubat dalam al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 135 :  “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Sedangkan tata cara dan sarana untuk bertaubat juga disinggung dalam hadis Nabi Muhammad SAW : “Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya.”

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ada orang yang melakukan suatu perbuatan dosa, kemudian dia berwudhu dengan sempurna, lalu dia mendirikan shalat dua rakaat, dan selanjutnya dia beristigfar memohon ampun kepada Allah, maka Allah pasti mengampuninya.” (HR. At-Turmudzi).

Hal ini menegaskan bahwa bertaubat akan lebih utama jika dikerjakan dengan melakukan shalat taubat untuk mendapatkan ampunan dari dosa dan maksiat. Shalat taubat juga termasuk amal shalih yang bernilai pahala jika dikerjakan selama masa pertaubatan.

Dalam melaksanakan shalat taubat tidak ada ketentuan waktu pelaksanaannya. Shalat taubat bisa dikerjakan kapan saja selama nafas belum sampai kerongkongan dan matahari belum terbit dari barat. Disunnahkan mengerjakan shalat taubat ini saat seorang Muslim bertekad untuk bertaubat dari sebuah dosa yang telah diterjangnya, baik taubat ini segera dikerjakan selepas ia melakukan maksiat itu atau mengakhirkannya.

Adapun beberapa tata cara melaksanakan sholat taubat antara lain berwudhu dengan sempurna, shalat dua rakaat sebagaimana shalat yang lainnya. Dikerjakan sendirian, karena ia termasuk nawafil yang tidak disyariatkan secara berjamaah. Berusaha khusyuk dalam shalatnya, karena teringat dengan dosa yang baru saja dia lakukan, beristigfar dan memohon ampun kepada Allah setelah shalat dan memperbanyak membaca istigfar khusus untuk shalat taubat.

Inti dari shalat taubat adalah memohon ampun kepada Allah, dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dia lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Di antara amal-amal utama yang bisa dikerjakan oleh orang yang bertaubat yaitu shadaqah, karena shadaqah termasuk sebab besar yang menghapuskan dosa.

Secara umum orang yang bertaubat hendaknya menyesal dengan apa yang telah dilakukan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Jika ada kesalahan dengan orang lain, ia harus meminta maaf kepada orang tersebut serta berupaya menjaga diri dari perbuatan dosa. Selama bertaubat harus ada peningkatan ilmu, amal dan akhlak dengan kesenangan ibadah dan semangat amal sholeh serta sibut dan tenggelam dalam perbuatan baik dan shalih.

Menjelang bulan rmadhan ini adalah saat yang tepat untuk melakukan taubat nasuha sehingga bisa memasuki bulan ramadhan dengan hati dan jiwa yang bersih. Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat. Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.