JAKARTA — Puluhan murid Sekolah Bina Bocah Muslim (Bibomus), Rawalumbu, Bekasi Timur, tampak asyik bermain di area sekolah yang luasnya lebih dari seribu meter persegi. Ada yang berlari-larian di sekitar lingkungan sekolah, bermain ayunan, atau permainan apa pun yang tersedia.

Jika lelah, mereka dapat beristirahat di kamar tidur. Pada sore hari, anak-anak mandi di tempat yang sama. “Semua didesain untuk kegembiraan anak-anak bermain dan belajar,” ujar pendiri Sekolah Bina Bocah Muslim Sumastri Sarwasih kepada Republika, akhir November.

Sekolah yang dia dirikan itu mengelola lembaga pendidikan jenjang TK dan PAUD. Keduanya berdiri pada 2000. Sekolah memiliki tanah dan bangunan sendiri empat tahun kemudian.

Semangat mendirikan sekolah ini bermula dari pengalaman Astri, sapaan akrab Sumastri Sarwasih, mendidik anak pertamanya, Farhana Izzati Rahma. Anak itu dinilainya cerdas karena dapat menyusun puzzle yang terdiri atas ribuan kepingan. Kemudian, Rahma dikenal pandai menari.

Dari mendidik Rahma, Astri kemudian memahami ada beberapa kecerdasan yang harus dimiliki anak-anak. Jika semuanya berkembang bagus, diyakininya anak akan tumbuh menjadi insan yang bermanfaat bagi banyak orang. Yang pertama adalah kecerdasan spiritual. Di sini anak diajak mengenal tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Guru melatih mereka untuk memahami tiada Tuhan selain Allah. Kemudian, ada kecerdasan interpersonal, intrapersonal, gambar, verbal bahasa, kinestetik, musik, mempelajari alam, dan angka matematika. Semua itu dinilainya harus dimiliki anak.

Pengalaman itu kemudian dipertajam lagi menjadi kegiatannya, yaitu mendidik anak-anak dengan membuka sekolah pendidikan anak usia dini dan TK di dekat rumahnya, Jalan Jembatan II Rawalumbu, Bekasi.

Nama sekolahnya adalah Bina Bocah Muslim (Bibomus). Anak-anak yang belajar di lembaga ini selain aktif mengikuti permainan edukatif seperti puzzle, juga dilibatkan bermain ragam permainan yang mempertajam sembilan kecerdasan di atas.

Asri berkisah, proses mendirikan sekolah ini tidak mudah. Awalnya, hanya membeli tanah dengan menyicil. Kemudian, Astri menjual rumah, mobil, dan berbagai perabotan untuk melunasi pembelian tanah. Hal itu dilakukannya sepulang dari Jepang.

Kini, murid-muridnya mencapai hampir 100 anak. Mereka ada yang bersekolah pagi sampai siang. Ada juga yang siang sampai sore. Ada juga yang sekolah dari pagi sampai sore hari. “Terserah mau ambil yang mana,” jelas dia.

Anak-anak didiknya berhasil mengukir prestasi di berbagai kompetisi di tingkat anak-anak. Sekolah yang dia kelola itu pun kerap terpilih sebagai tujuan study tour sebab keunikan yang dimiliki. Lembaga inilah yang mengantarkan Astri berhasil meraih predikat pengelola PAUD terbaik se-Jawa Barat pada 2004. |ROL|