Jakarta -Para perantara pedagang efek atau broker saham mulai menghitung besaran pungutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dikenakan kepada mereka. Iuran atau pungutan ini telah diberlakukan mulai 1 Maret 2014.

Khusus untuk broker saham, iuran yang dipungut OJK adalah sebesar 1,2% dari pendapatan usaha.

Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja mengaku, pihaknya saat ini baru akan menghitung besaran pungutan OJK yang akan dibebankan kepada mereka.

“Belum dihitung secara keseluruhan berapa. Nanti akan kita hitung kasarannya berapa, kan banyak aspek ya, kita harus lihat satu-satu,” ujar Lily saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Jumat (14/3/2014).

Lily menyebutkan, saat ini total Perusahaan Efek (PE) yang tergabung dalam asosiasi yang dipimpinnya mencapai 125 perusahaan.

“Total anggota kita sekarang 125 ya. Nah kita harus lihat dulu satu-satu untuk bisa tahu berapa total pungutannya,” kata Lily.

Sebagai informasi, OJK menetapkan besaran pungutan kepada Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, Penasihat Investasi, dan Agen Penjual Efek Reksa Dana sebesar 0,8% dari pendapatan usaha (minimal Rp 6.666.667) di tahun 2014, dan di 2015 sebesar 1,2% dari pendapatan usaha (minimal Rp 10.000.000).