Dana Murah Pasar Modal
Selasa, 26 September 2017 | 10:58

IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.comIHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

Pasar saham kita saat ini memang masih didera aksi
jual oleh asing. Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/9),
ketika indeks melemah 17 poin ke posisi 5.894,6, asing masih mencatatkan net
sell sebesar Rp 154,2 miliar. Dengan kondisi ini, asing telah membukukan net
sell sebesar Rp 8,4 triliun sejak awal tahun (year
to date
). Tapi, indeks masih mencatat gain sebesar
11,29% sejak awal tahun.

 

Meski asing melakukan aksi jual, mereka tidak
benar-benar keluar dari Indonesia. Sebagian besar dana mereka alihkan ke surat
berharga negara (SBN) yang saat ini menjanjikan imbal hasil lebih menarik.
Bukti bahwa asing tidak pergi dari Indonesia tercermin pada nilai tukar rupiah yang
masih stabil sejak gelombang net
sell
terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

 

Kalangan analis dalam dan luar negeri pun tetap
beranggapan bahwa pasar saham di Indonesia masih sangat atraktif. Valuasi saham
juga relatif murah, sehingga potensi gain-nya masih relatif tinggi. Itu sebabnya, pelaku
pasar tidak terpengaruh dengan fenomena keluarnya asing dari bursa.

 

Selain menarik di mata investor, pasar saham juga
masih menarik di mata korporasi yang hendak memobilisasi dana. Terbukti, minat
untuk menggelar penawaran umum perdana (initial
public of fering
/ IPO) saham masih tinggi. Sejak awal tahun, ada 22
perusahaan yang telah melaksanakan IPO di BEI sejak Januari.

 

Selain itu, ada 10 calon emiten yang dalam proses (pipeline).
Dengan demikian, target 35 emiten yang IPO di BEI tahun ini kemungkinan besar
tercapai. Bukan hanya IPO, animo korporasi untuk menerbitkan obligasi pun semakin
besar. Sejauh ini, emitenemiten telah menerbitkan oligasi senilai Rp 65 triliun
lebih. Hingga akhir tahun, diprediksi emisi obligasi korporasi menembus Rp 120 triliun.

 

Yang tak kalah menarik, saat ini variasi instrumen
keuangan di pasar modal lebih beragam. Baru-baru ini, dua badan usaha milik Negara
(BUMN) menerbitkan produk kontrak investasi kolektif efek beragun aset
(KIK-EBA). Jasa Marga menerbitkan KIK-EBA senilai Rp 2 triliun. Ini merupakan
surat berharga berbasis future cash flow sejumlah ruas tol yang dimiliki Jasa Marga.
Langkah ini diikuti oleh PT Indonesia Power, anak usaha PLN, yang menerbitkan
KIK-EBA senilai 4 triliun.

 

Investor pun sangat antusias menyambut produk baru
tersebut. Dua-duanya kelebihan permintaan (oversubscribed) hampir tiga kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa
investor di pasar modal masih haus akan produk-produk instrument keuangan yang
atraktif. Apalagi produk baru ini menawarkan kupon menarik.

 

KIK-EBA yang merupakan bentuk sekuritisasi aset
tersebut menunjukkan bahwa produk ini cukup efektif bagi perusahaan untuk pengembangan
usaha. KIK-EBA Jasa Marga dan Indonesia Power juga merupakan wujud dukungan pasar
modal terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia yang membutuhkan biaya
sangat besar.

 

Lebih dari itu, KIK-EBA juga dapat menjaring investor
asing masuk ke pasar modal. Kita berharap banyak BUMN lain yang mengikuti jejak
kedua BUMN tersebut untuk melakukan sekuritisasi aset. Bahkan, peluang ini juga
terbuka lebar untuk perusahaan swasta.

 

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pasar modal
menjadi sarana mobilisasi dana murah yang menarik, baik lewat IPO, emisi
obligasi, sekuritisasi aset, dan bentuk instrumen keuangan lainnya. Akan lebih
bagus lagi jika otoritas pasar modal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong
penerbitan instrumen baru sehingga pendalaman pasar keuangan (financial
deepening)
yang dicita-citakan dapat terwujud.

 

Apalagi saat ini suasana sangat kondusif bagi pasar
modal. Hal itu terkait dengan penurunan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate
ke level 4,25% pekan lalu. Penurunan suku bunga
lazimnya selalu diikuti dengan kenaikan harga saham. Rendahnya suku bunga juga
mendorong penurunan imbal hasil SBN.

 

Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan akan
mendorong pemangkasan suku bunga kredit sehingga memicu ekspansi kredit dan
dunia usaha. Itulah sebabnya, kita tidak perlu risau dengan aksi jual asing di
pasar saham. Asing hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke bursa.
Mereka kini sedang mendiversifikasi investasi ke produk portofolio yang lebih
menjanjikan.

 

Dalam konteks itu, diversifikasi produk atau instrumen
pasar modal perlu semakin didorong untuk menarik investor, baik domestik maupun
asing. Bagi korporasi, pasar modal terbukti menjadi tempat yang menarik untuk
menjaring dana murah bagi keperluan ekspansi usaha.

 

Kita berharap pasar modal mampu menjaring dana
sedikitnya Rp 170 triliun tahun ini, atau 24% dari total pembiayaan sektor
keuangan yang diprediksi mencapai Rp 717 triliun. (*)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Source link