Jakarta – Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (20/9/2013) diprediksi menguat seiring kembalinya dana panas ke dalam negeri.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan akhir pekan ini, seiring adanya arus capital inflow. Jadi, kata dia, hot money sudah kembali ke pasar emerging market termasuk Indonesia.

Kembalinya hot money, setelah The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih menunggu pertumbuhan ekonomi AS yang lebih solid sebelum menaikkan suku bunga. “Karena itu, rupiah berpeluang mengalami penguatan lebih lanjut ke level 11.050 dan kalaupun melemah sudah terbatas di level 11.350,” katanya kepada INILAH.COM.

Lebih lanjut dia menjelaskan, The Fed juga menolak untuk mengurangi stimulus (tapering) Quantitative Easing (QE) tahap ketiga tahun ini. “The Fed juga mengubah acuan pertumbuhan ekonomi dengan melihat secara keseluruhan dari data tenaga kerja AS,” ujarnya.

Sebelumnya, The Fed hanya menjadikan tingkat pengangguran yang jadi acuan dan mengubahnya dengan melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan. “Artinya, selain angka pengangguran, The Fed juga mengacu pada jumlah partisipasi tenaga kerja dan berbagai sisi yang lain seperti peningkatan tenaga kerja di sektor manufaktur dan jasa,” papar dia.

Dengan acuan terbaru ini, kata dia, kemungkinan The Fed akan menentukan target tingkat pengangguran turun ke bawah 6,5%.

Intinya, kata dia, hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) benar-benar di luar ekspektasi di mana bank sentral tidak memutuskan untuk mengurangi stimulus sehingga mendorong arus capital inflow ke negara emerging market.

Untuk jangka pendek, kata dia, arus hot money akan kembali ke pasar domestik sehingga rupiah mulai stabil dan pulih, lalu menguat.

“Pada saat konferensi pers, secara keseluruhan Gubernur The Fed Ben Bernanke cenderung dovish (pro-moneter longgar) sehingga potensi kenaikan suku bungannya diundur hingga 2016,” ungkap dia.

Komitmen tingkat suku bunga rendah ini, Christian menegaskan, berakibat pada membaiknya sentimen risk appetite (hasrat pasar pada aset-aset berisiko) termasuk hasrat pada rupiah.

Secara terpisah, Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, hasil sidang FOMC The Fed, turut mempengaruhi laju pergerakan rupiah sehingga akhirnya bisa kembali menghijau. “Perpanjangan stimulus The Fed dan masih bertahannya tingkat suku bunga rendah AS memberikan penilaian bahwa supply dolar AS di pasar masih akan bertambah dan akan membuat dolar AS mengalami pelemahan,” ujarnya.

Sentimen ini, kata dia, juga turut berimbas positif pada laju mata uang Asia lainnya. “Dengan hasil sidang tersebut juga membuat permintaan akan mata uang yang dinilai save haven kian berkurang dan dimanfaatkan pergerakan mata uang Asia yang mencoba rebound,” ucapnya.

Setlah laju rupiah melewati target resisten 11.455 kemarin, Jumat ini, Reza memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran 11.253-11.288 dengan menggunakan acuan kurs tengah Bank Indonesia.

Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS  di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (19/9/2013) ditutup menguat 183 poin (1,59%) ke posisi 11.277/11.288. Intraday terkuat mencapai 11.195 dan terlemah 11.460 per dolar AS. |inilah|