[ad_1]

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya Imam Efendi (kiri) didampingi Kepala Divisi Pengelolaan Data dan Penanggulangan Pemalsuan Uang Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Hasiholan Siahaan (kanan) menunjukkan barang bukti uang palsu di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Senin (23/5).
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya Imam Efendi (kiri) didampingi Kepala Divisi Pengelolaan Data dan Penanggulangan Pemalsuan Uang Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Hasiholan Siahaan (kanan) menunjukkan barang bukti uang palsu di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Senin (23/5).
© Reno Esnir /ANTARA FOTO

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri hingga saat ini masih menelusuri asal muasal peredaran uang palsu yang melibatkan anggota TNI Angkatan Darat berinisial AL. “Diduga (lokasinya) di luar Jakarta,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Kamis (9/6/2016) seperti dilansir Antaranews.com.

Tertangkapnya AL yang berdinas di Kementerian Pertahanan berawal Selasa (7/6/2016), saat penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menggelar operasi uang palsu. Untuk mengungkap sindikat peredaran uang palsu itu awalnya polisi menyamar sebagai pembeli. Polisi lalu menghubungi seorang yang berinisial MR. Saat itu polisi bilang akan membeli uang Rp300 juta. Setelah komunikasi, mereka pun menyepakati tempat pertemuan.

Pertemuan disepakati dilakukan di Rumah Sakit UKI Cawang, Jakarta Timur. Mereka pun bertemu di tempat itu. Ternyata, kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul seperti ditulis Liputan6.com, uang yang hendak dibeli itu tak ada di tangan MR. MR bilang uang ada di Kolonel AL yang menunggu di mobil. “MR ini menuju ke personel yang dari TNI,” katanya.

Saat itulah polisi langsung menangkap kedua orang itu. Dari keduanya, polisi menyita 3.000 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu.

Keduanya langsung dibawa ke Bareskrim. Namun karena AL merupakan anggota TNI, pihak kepolisian langsung menyerahkannya ke Polisi Militer TNI. Sedangkan MR langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut Martinus, keterangan dari bank Indonesia menganggap uang palsu yang disita itu mendekati asli.
“Nomor serinya ini sudah keluar dan peredarannya (uang asli) ada di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan di daerah Yogya,” kata dia.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Djunan Eko, membenarkan AL berdinas di Kemenhan. Di Kemenhan, AL menjabat sebagai Kasubdit Administrasi Veteran. Djunan mengaku, institusinya kaget dengan keterlibatan AL itu. “Ya kita shock. Ini memalukan, jika benar-benar dia terlibat dalam hal ini,” katanya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu langsung bereaksi. Kata dia, dirinya tidak akan memberi ampun terhadap Kolonel AL. “Pokoknya yang salah dihukum, terserah mau dihukum apa. Hukum potong tangan terserah,” kata Ryamizard.
AL sendiri hingga kini masih diperiksa di POM TNI. Sementara AL ditahan di Bareskrim dan dijerat pasal 36 Undang-Undang Mata Uang Nomor 7 Tahun 2011 dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun.

Uang palsu meningkat

Peringatan akan terjadinya kejahatan pemalsuan uang ini diungkap polisi sebelum puasa beberapa waktu lalu setelah Mabes Polri menangkap dua tersangka pengedar uang palsu pecahan Rp100 ribu senilai Rp1,6 miliar di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Direktur Tindak Pidana Bidang Ekonomi dan Keuangan/perbankan serta Kejahatan Khusus lainnya, Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan peredaran uang palsu cenderung meningkat dari segi jumlah maupun luas peredarannya. Tahun 2014 ada 47 kasus dan tahun 2015 ada 65 kasus. Jumlah tersangkanya pun terus meningkat dari 81 orang di tahun 2014 dan 119 di tahun 2015.

[ad_2]

Source link