New York – Kurs dolar AS jatuh terhadap euro tetapi naik terhadap yen pada Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah laporan pekerjaan untuk November secara mengejutkan mantap, memberi lebih banyak bukti ekonomi AS sedang menguat.

Penciptaan lapangan kerja lebih besar dari yang diharapkan, dan tingkat pengangguran AS turun menjadi tujuh persen dari 7,3 persen, angka-angka ini mengangkat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera mulai mengurangi program stimulus besarnya (85 miliar dolar AS per bulan).

Tetapi prospek itu, yang mendorong imbal hasil obligasi AS sedikit naik dan dapat menyebabkan suku bunga lebih tinggi, gagal memberikan dorongan naik terhadap dolar.

Pada pukul 22.00 GMT (Sabtu pukul 05.00 WIB), euro berada di 1,3705 dolar, dibandingkan dengan 1,3666 dolar pada akhir Kamis.

Nick Bennenbroek dari Wells Fargo Securities mengatakan pelemahan dolar menunjukkan kepercayaan pasar pada laporan itu “bisa dibilang … tidak memberikan kasus menentukan bagi Fed untuk mulai mengurangi kecepatan pembelian obligasinya pada pertemuan bulan ini.”

Pembuat kebijakan Fed akan bertemu pada 17-18 Desember untuk meninjau kebijakan moneter, dan pengurangan program stimulus akan menjadi fokus utama diskusi.

Sementara yen merosot, dengan dolar nyaris mencapai tertinggi untuk tahun ini terhadap mata uang Jepang dan euro mencetak tertinggi lima tahun.

Dolar naik menjadi 102,85 yen dari 101,77 yen pada Kamis, dan euro mencapai 141,03 yen, naik dari 139,08 yen.

“Yen berkinerja buruk pada Jumat karena penguatan saham dunia membantu merangsang beberapa pengambilan risiko,” kata Joe Manimbo di Western Union yang dilansir AFP.

“Yen jatuh ke posisi terendah enam bulan terhadap dolar minggu ini karena pandangan bahwa bank sentral Jepang akan lebih lama menerapak kebijakan uang longgarnya dibandingkan dengan rekan-rekannya di AS dan Eropa.”

Pound Inggris menguat menjadi 1,6346 dolar dari 1,6333 dolar, sementara dolar merosot menjadi 0,8915 franc Swiss dari 0,8966 franc. |Ant|