JAKARTA – Rupiah masih melemah. Bank Indonesia (BI) dalam tiga bulan terakhir telah menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 125 basis poin (bps) untuk mencegah pelemahan. Ekonom meminta BI tidak menaikkan BI Rate lagi kendati rupiah masih jatuh. “Bi Rate jangan digunakan untuk mendefense mata uang,” ujar Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Doddy Ariefianto, Rabu (11/9).

Berkaca dari sejarah, efektivitas BI Rate untuk meredam pelemahan rupiah dinilai rendah dan tidak berdampak besar. Di sisi lain, kenaikan BI Rate memiliki dampak yang besar terhadap perbankan. Bank akan meningkatkan bunga kredit menyusul kenaikan bunga deposito. Kenaikan bunga kredit menyebabkan resiko kredit bermasalah (NPL) meningkat, serta dapat menurunkan profitabilitas bank. “Apakah rupiah menguat? Tidak,” ujar dia.

Selain rupiah yang terus melemah, Indonesia juga dihantui oleh inflasi yang tinggi. Pemerintah memprediksikan inflasi pada akhir tahun mencapai 9,2 persen. Doddy mengatakan nilai inflasi yang lebih besar daripada BI Rate tidak apa-apa. “BI Rate di bawah inflasi tidak apa-apa. Selisihnya 2-2,5 persen. Kan inflasi cuma sementara,” tuturnya.

Sementara ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, mengatakan kenaikan BI Rate kemarin tidak menaikkan jumlah dana. “Bank sudah bagus. BI Rate tidak usah naik lagi karena itu akan membuat bank terperosok,” ujarnya.

Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan, menuturkan rupiah akan menarik jika suku bunga tinggi sehingga bank sentral harus menaikan bunga. “Tidak ada pilihan lain,” kata Fauzi.

Alasan kedua, dengan naiknya suku bunga, bunga kredit akan naik sehingga pertumbuhan ekonomi turun. Pertumbuhan ekonomi yang turun akan menyebabkan penurunan impor yang berdampak pada berkurangnya defisit transaksi berjalan. “Di sinilah equilibrium terjadi,” ucap Fauzi.

Menurutnya, alasan utama dari pelemahan rupiah adalah neraca transaksi berjalan yang defisit. Defisit tak akan menjadi masalah yang besar jika dapat dibiayai melalu surplus neraca modal dan finansial. Masalahnya, foreign direct investment (FDI) tak cukup untuk menutup defisit tersebut. Selain itu, dengan meningkatnya FDI, impor juga meningkat. “Kenaikan FDI tak akan serta merta menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan. Maka harus dibiayai dengan investasi porftolio,” paparnya.

Fauzi memperkirakan BI rate akan naik sebesar 50 bps pada kuartal IV jika rupiah menembus Rp 12 ribu. “Kalau tak tembus alasan menaikan mengecil tajam,” ujar dia. Menurutnya, dampak kenaikan suku bunga pada sektor riil memang pahit, tapi kalau tidak dilakukan rupiah terus melemah.

Kenaikan BI Rate yang tak diikuti dengan kenaikan bunga kredit akan membuat marjin bank tergerus. Namun, Fauzi yakin laba bank tidak akan mengalami kerugian melihat net interest margin (NIM) yang masih sebesar 5 persen. “Di Singapura hanya 1-1,5 persen. Marjin yang dinikmati perbankan besar, jadi kalau ada kenaikan funding cost, bisa diabsorb,” ujar dia. |ROL|