INILAHCOM, Jakarta – Beberapa agen dari luar negeri terutama untuk produk furniture berharap ada aksi dari pemerintah terhadap pelaku UKM (usaha kecil menengah) di Jepara.

Salah satunya, pasangan suami istri Peter dan Diana dari Jerman yang merasakan adanya kesenjangan penguasaan bahasa Inggris pelaku UKM dengan pembeli asing itu.

Para pelanggan dari luar negeri jarang yang bisa berbahasa Indonesia. Begitu juga dengan pelaku UKM di dalam negeri. “Mereka miscommunication. Bahkan hal yang paling prinsip, seperti harga juga miscommunication. Yang satu, (transaksi) dengan dolar AS. Yang satu lagi, pikirnya (transaksi) dengan Rupiah. Sehingga loading (bongkar muat) tertunda,” kata Dino, asisten dari trader di Jepara Jawa Tengah kepada INILAHCOM di Jakarta, akhir pekan ini.

Peter dan Diana sudah lama berbisnis dengan beberapa produsen furniture di Jawa Tengah, terutama Jepara. Mereka adalah agent untuk beberapa end user (pengguna akhir) di Dubai dan beberapa negara Eropa.

Tetapi, beberapa hari ini, selain faktor kesenjangan bahasa, mereka juga mulai mengeluh etika bisnis pelaku UKM di Jepara. “Selain miscommucation, saya melihat PT Jati Makmur (produsen di Jepara) sering memaksa. Harga belum deal (sepakat), tapi mereka paksa untuk loading. Akhirnya, terjadi keributan. Mister Peter pun disekap,” ucap Dino.

Sementara itu, produsen selalu beralasan, bahwa harga sangat murah. “Seakan-akan, mereka (produsen) judge bahwa harga murah, kualitas dikesampingkan. Kalau Mister Peter complain, mereka sering tidak terima. Tetapi kalau ada order baru, mereka (produsen) hanya minta sample. Mereka langsung produksi karena ‘rindu’ order,” timpal dia.

Insiden penyekapan terhadap Mister Peter berlangsung sehari semalam pada Rabu (27/5/2015). Selain furniture, ada aksesoris seperti iron lamp (lampu besi). Jati Makmur dan Peter belum sepakat untuk harga, tetapi ada suasana berburu-buru.

“Kalau ibu Alfi (produsen Jati Makmur) enggak ngerti bahasa Inggris sampai seratus persen. Sementara Mister Peter juga sering salah apa maksud dari penjelasan Alfi.

“Misalkan item lampu besi, awalnya di charge Rp350.000. Tetapi tidak ada kesepakatan, kursnya. Akhirnya, karena Alfi yakin diterima (transaksi dengan US Dolar), dia iming-imingi kasih dua buah untuk harga 350 ribu. Padahal, selisih kursnya tidak cukup dengan ‘bonus’ atau ibaratnya buy one get one,” katanya. [jin]

Inilah.com – Headline