Oleh : M. Saifudin Hakim

INILAHCOM, Jakarta–  Permasalahan berikutnya adalah, jika makmum mengingatkan imam dengan ucapan (kalimat) semisal, “Sujudnya kurang” atau kalimat sejenisnya, apakah shalat makmum menjadi batal?

Permasalahan ini pernah ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

وسئلفضيلةالشيخ: إذاكانالكلامفيمصلحةالصلاة،مثلنسيالإمامقراءةالفاتحة،فنقوللهاقرأالفاتحة،وإذانسيالركوعوسجدوقيللهسبحاناللهفلميفهمخطأه،فنقوللهلمتركع… فهلذلكيبطلالصلاة؟

“Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Jika kita mengucapkan suatu kalimat dalam rangka ada kebutuhan di dalam shalat, misalnya ketika imam lupa membaca Al-Fatihah, lalu kita mengucapkan kepadanya,”Bacalah Al-Fatihah.” Atau ketika lupa melakukan ruku’ dan sujud, dan dikatakan kepadanya, “Subhaanallah”, namun dia tidak bisa memahami kesalahannya, maka dikatakan kepada imam, “Engkau belum ruku’”, maka apakah ucapan semacam itu membatalkan shalat?”

فأجابفضيلتهبقوله: نعمالكلاميبطلالصلاة،وأعنيبالكلامكلامالآدميينوالدليلعلىذلكقصةمعاويةبنالحاكم– رضياللهعنه– حينجاءوالنبيصلىاللهعليهوسلميصليبأصحابهفعطسرجلمنالقومفقال: الحمدلله– قالهالعاطس– فقالمعاويةيرحكمالله،فرماهالناسبأبصارهم،فقال: واثكلأمياه– قالهمعاوية– فجعلوايضربونعلىأفخاذهميسكتونه،فسكت،فلماقضىصلاتهدعاهالنبيصلىاللهعليهوسلم،قالمعاوية: فبأبيهووأمي،مارأيتمعلماًأحسنتعليماًمنه– صلواتاللهوتسليمهعليه– واللهماكهرني،ولانهرنيوإنماقال: “إنهذهالصلاةلايصلحفيهاشيءمنكلامالناس،إنماهوالتسبيحوالتكبيروقراءةالقرآن”،

“Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab,”Benar bahwa ucapan (berkata-kata) bisa membatalkan shalat, yaitu perkataan (ucapan) manusia. Dalil masalah ini adalah kisah Mu’awiyah bin Hakam radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau datang (untuk shalat jamaah, pen.) dan Nabi sedang melaksanakan shalat dengan para sahabatnya. Maka salah seorang makmum bersin dan orang tersebut mengucapkan “alhamdulillah”. Maka Muawiyah mengatakan,”Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).” Maka orang-orang pun memandang dengan tajam ke arah Muawiyah. Muawiyah pun berkata, “Duhai ibuku yang kehilangan aku.” Para sahabat pun kemudian memukulkan tangannya ke pahanya, dengan maksud agar Muawiyah diam. Muawiyah pun terdiam.”

Ketika shalat telah selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Muawiyah. Muawiyah berkata, “Sungguh saya belum pernah melihat seorang pengajar yang cara mengajarnya lebih baik dari beliau. Demi Allah, beliau tidak membenciku, dan tidak pula mencelaku. Beliau hanya mengatakan kepadaku, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat sesuatu pun berupa percakapan manusia. Sesungguhnya shalat itu isinya adalah tasbih, takbir, dan bacaan Al Qur’an.”

الشاهدقولهصلىاللهعليهوسلم: “إنهذهالصلاةلايصلحفيهاشيءمنكلامالناس” وهذاعام،فشيءنكرةفيسياقالنفييفيدالعمومسواءلمصلحةالصلاةلغيرمصلحةالصلاة،وعلىهذافلايجوزلناأنننبهالإمامبشيءمنالكلام،فإذاسجدقلناسبحاناللهفيغيرموضعالسجودوقاموقلناسبحانالله؛لأنهليسموضعالقيامفلانقوللهاجلسلأنكإنقلتاجلسفإنكتكونقدكلمتالآدميفتبطلصلاتك.

“Sisi pendalilan adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat sesuatu pun berupa percakapan manusia.” Kalimat ini bersifat umum. Kata “sesuatu” adalah isim nakirah (kata benda indefinitif) dalam konteks peniadaan (nafi), sehingga menunjukkan makna umum, (mencakup) baik perkataan (ucapan) yang dibutuhkan dalam shalat (seperti mengingatkan imam, pen.) atau pun yang tidak dibutuhkan dalam shalat. Berdasarkan hal ini, maka tidak boleh bagi kita untuk mengingatkan dengan ucapan sedikit pun (selain ucapan subhaanallah, pen.). Jika imam sujud, katakanlah subhanallah, jika memang belum waktunya sujud. Jika imam berdiri, katakanlah subhanallah, jika memang belum waktunya berdiri. Jangan katakan, “Duduklah”, karena jika Engkau mengatakan, “Duduklah”, maka Engkau telah berkata-kata dengan ucapan manusia yang membatalkan shalatmu.

فإذاتكلمأحدالناسجاهلاًفلاعليهإعادة،ولهذالميأمرالنبيصلىاللهعليهوسلممعاويةبالإعادةمعأنهتكلممرتين،مرةقالللعاطس(يرحمكالله) ومرةقال: (واثكلأمياه) ولميأمرهبالإعادة،لكنلوأنالإمامفيصلاةجهريةنسيأنيجهرفقلنالهسبحاناللهفلميفهم،فكيفننبهه؟

الجواب: نقرأجهراًيرفعأحدالمصلينصوتهبقراءةالفاتحةفينتبهالإمام

“Jika seseorang berkata-kata karena tidak tahu, maka tidak perlu mengulang shalatnya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan Muawiyah untuk mengulang shalatnya, padahal Muawiyah berkata-kata sebanyak dua kali. Sekali ketika berkata kepada orang yang bersin, “Semoga Allah merahmatimu”; dan sekali berkata, “Duhai ibuku yang kehilangan aku.”; dan Nabi tidak memerintahkan Muawiyah untuk mengulang shalatnya. Akan tetapi, jika dalam shalat yang bacaannya dikeraskan, imam lupa untuk tidak mengeraskan bacaannya, dan kita katakan kepadanya, “Subhanallah”, namun imam tidak paham, maka bagaimana cara mengingatkannya? Jawabannya, salah seorang makmum membaca surat Al-Fatihah dengan keras untuk mengingatkan imam.” [Selesai fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah] [1]

Lalu Bagaimana Solusi jika Imam Tidak Mengetahui Letak Kesalahannya?

Dalam fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah di atas, terdapat solusi jika imam lupa mengeraskan bacaan Al Fatihah, yaitu salah satu makmum mengeraskan bacaan Al-Fatihah. Dalam kasus pertama (yang kami paparkan di bagian pertama tulisan ini), yaitu jika imam hanya sujud satu kali, dan diingatkan oleh makmum, namun tidak paham, maka bagaimanakah solusinya?

Terdapat penjelasan menarik yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah dalam fatwanya berikut ini.

هليجوزالتكلملتنبيهالإمام،مثلقول: قم،أواجلسبعدعدمفهمهلقولنا: سبحانالله؟

Pertanyaan: Bolehkah berkata-kata untuk mengingatkan imam, misalnya dengan mengatakan, “Berdirilah” atau “Duduklah” setelah imam tidak memahami ucapan kita, “Subhaanallah”?

يقولون: إذااحتيجإلىالكلامفيمصلحةالصلاةمعكونالإماملميفهمالمطلوب،فيمكنأنيختاركلمةمنالقرآنإذاكانيستحضر،فمثلا: إذاأرادمنهأنيقومقرأعليه: { وقومواللهقانتين} [ البقرة: 238 ] يعني: أمربالقيام،وإذاأرادلهأنيجلسأوأنيقعدجاءبمثلقولهتعالى: { وقيلاقعدوامعالقاعدين} [ التوبة: 46 ] أونحوذلك.

وكذلكإذاأرادمنهالركوعقرأعليه: { اركعوامعالراكعين} [ البقرة: 43 ] أوأرادمنهالسلام،قرأعليه: { وسلمواتسليما} [ الأحزاب: 56 ] وماأشبهذلكفإذالميستحضرذلك،وقالله: اسجدبدونكلمة( ( واقترب) ) أوقالله: اجلس،عفيعنذلك؛لأنهمنمصلحةالصلاة.

Jawaban Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah:

“Jika memang dibutuhkan untuk berkata-kata dalam rangka ada kebutuhan dalam shalat, ketika imam tidak memahami maksud kita, maka mungkin bisa memilih kalimat dari Al Qur’an jika kita menghafalnya. Misalnya, jika kita menghendaki imam untuk berdiri, kita baca firman Allah Ta’ala,

وَقُومُوالِلَّهِقَانِتِينَ

“Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238).

Maksudnya, kita memerintahkan (imam) untuk berdiri. Jika kita menghendaki imam agar duduk, kita bisa membaca semisal firman Allah Ta’ala,وَقِيلَاقْعُدُوامَعَالْقَاعِدِينَ

“Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah [9]: 46) atau ayat-ayat semisal itu.

Demikian pula, jika kita menghendaki agar imam ruku’, maka kita baca firman Allah Ta’ala,

وَارْكَعُوامَعَالرَّاكِعِينَ

“Dan ruku’-lah bersama-sama dengan orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).

Jika kita menghendaki agar imam salam, kita baca firman Allah Ta’ala,  وَسَلِّمُواتَسْلِيمًا

“Dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56); atau ayat-ayat semisal itu.

Jika tidak ada yang hafal, lalu berkata, “Sujudlah” tanpa kalimat (yang artinya), “dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” [2]; atau berkata kepada imam, “Duduklah”, maka hal ini dimaafkan (tidak masalah), karena termasuk kebutuhan dalam shalat.” [Selesai fatwa Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah] [3, 4]

Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kaum muslimin. [  ]

Sumber muslimorid

Catatan kaki:

[1] Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Syaikh Al-‘Utsaimin, 14/25-26 (Maktabah Asy-Syamilah).

[2] Yaitu firman Allah Ta’ala dalam surat Al-‘Alaq [96] ayat 19.

[3] Demikianlah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah. Namun, wallahu Ta’ala a’lam, pendapat yang lebih tepat adalah bahwa ucapan (manusia) seperti ini tidak diperbolehkan berdasarkan makna umum yang tercakup hadits Muawiyah bin Hakam radhiyallahu ‘anhu.

[4] Diterjemahkan dari: http://www.madinahnet.com/books39/353شرح–عمدة–الأحكام–لابن–جبرين–صفحة

Inilah.com – Headline