INILAHCOM, Zurich – Kemenangan Sepp Blatter dalam pemilihan presiden FIFA 2015 di Zurich, Swiss, Jumat malam (29/5/15) WIB lalu, menuai cibiran dari mantan pemain timnas Portugal, Luis Figo.

Blatter, yang telah menjabat sejak 17 tahun silam, dianggap tak mampu membuat FIFA lebih baik. Kecaman terhadapnya semakin deras setelah FBI menciduk tujuh pejabat FIFA serta sejumlah mantan pejabatnya karena kasus korupsi, penyuapan, dan konspirasi terkait event-event FIFA seperti Piala Dunia.

Banyak pihak yakin memilih kembali Blatter berarti sama dengan mempertahankan kebobrokan FIFA.

Blatter membela diri saat kasus yang telah terjadi sejak 20 tahun silam itu terungkap, Rabu (27/5/15) lalu. Menurutnya, tindak kejahatan tersebut adalah tindak kejahatan pribadi dan ia tak mungkin bisa mengontrol anak buahnya satu per satu.

“Hari ini adalah hari gelap baru di Zurich. FIFA telah kehilangan, tetapi di atas segalanya, sepak bola telah kehilangan dan setiap orang yang benar-benar peduli soal sepak bola juga kehilangan,” ujar Figo seperti dikutip dari BBC.

“Pak Blatter memberikan reaksi yang sangat sinis saat dia bilang dia tidak bisa mengontrol masing-masing orang. Itu merendahkan kecerdasan setiap orang. Orang-orang ini, yang telah dipromosikan oleh Pak Blatter selama bertahun-tahun, mengubah FIFA, bersamanya, menjadi organisasi yang memburuk,” ia menambahkan.

Figo, yang sempat mengajukan diri sebagai kandidat namun mundur sebelum pemilihan digelar, menilai Blatter tak peduli dengan sepak bola.

“Kalau Pak Blatter minimal peduli terhadap sepak bola, dia akan mundur dari pemilihan, jika dia punya sedikit kesopanan, dia akan mengundurkan diri dalam beberapa hari ke depan,” pria berusia 42 tahun itu mengakhiri.

Banyak anggota FIFA, terutama dari Eropa, ingin menjegal Blatter. Ketua umum Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Greg Dyke, menegaskan bahwa perlawanan mereka belum usai.

“Ini belum selesai dalam arti apapun. Mengutip jaksa agung (Amerika Serikat, yang menyelidiki kasus pejabat FIFA), ini adalah awal dari proses, bukan akhir,” ujarnya.

“Ide bahwa Blatter bisa mereformasi FIFA tidak dapat dipercaya. Saya akan sangat terkejut kalau dia masih di jabatannya dalam dua tahun kedepan,” ia menambahkan.

Dyke menegaskan bahwa Inggris tidak akan berjuang sendirian untuk melengserkan pria berusia 79 tahun itu dari jabatannya.

“Saya rasa akan ada diskusi di FIFA soal hasil ini dan apa yang harus dilakukan FIFA selanjutnya, tetapi itu bukan hanya menjadi tugas Inggris saja,” ia menandaskan.

Inilah.com – Headline