INILAHCOM, Jakarta – Persepakbolaan Indonesia menjadi sorotan hingga dunia internasional. Pengamat sepak bola asal Spanyol, Carlos Melgaros Varon, mengaku ragu dengan profesionalitas para pengurus sepak bola Indonesia.

Carlos yang merupakan mantan pemain Real Betis itu melihat sepak bola di Indonesia bukan lagi sebagai wadah penyaluran bakat dan potensi pemain, namun lebih mengarah kepada urusan pribadi pengurus klub hingga induk organisasi.

Untuk menghasilkan pemain berkelas dunia, Carlos menjelaskan, seharusnya pembinaan sepak bola itu membutuhkan rencana dan pengelolaan yang profesional. Hal itulah yang belum ia temukan di sepak bola Indonesia.

"Untuk menjadikan sepak bola kita profesional, kan harus melalui proses panjang. Pemain harus dididik melalui sekolah bola yang mata rantainya jelas," ungkap Carlos dalam dialog bertema Sepak Bola Dan Kedaulatan Bangsa di Jakarta, Jumat (29/5).

"Coba lihat Barcelona,MU, Dan club-club besar lainnya. Mata rantai lembinaan speak bolanya jelas, sehingga lahirlah pemain-pemain profesional," ungkapnya.

Di saat yang bersamaan, pakar hukum Tata Negara, Refly Harun, ikut berkomentar menyikapi kisruh yang terjadi antara Menpora dan PSSI.

Menurutnya, PSSI seharusnya tunduk dengan konstitusi negara karena mereka berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menyebut hal ini sama seperti FIFA yang memiliki statuta dan harus dipatuhi para anggotanya.

"FIFA sekalipun, kalau masuk ke wilayah hukum Indonesia, harus tunduk," ujarnya.

Hal ini berarti tidak salah jika Menpora yang mewakili pemerintah melalukan intervensi selama masih berada dalam koridor konstitusi.

"Kalau dalam suatu lembaga ada pihak-pihak yang melanggar konstitusi, lalu pemerintah tidak boleh intervensi, artinya pemerintahnya sendiri telah mengabaikan konstitusi," ia memungkasi

Inilah.com – Headline