INILAHCOM, New York – Setidaknya satu dari 20 orang memiliki halusinasi meski tidak terpengaruhi obat terlarang, alkohol, atau sedang bermimpi.

Peneliti menganalisis pernyataan tersebut pada lebih dari 31 ribu orang di18 negara. Para partisipan ditanyai perihal apakah mereka pernah mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang tidak ada, atau jika mereka telah mengalami delusi.

Jika ya, mereka mungkin memiliki gangguan psikotik seperti skizofernia atau depresi. Temuan ini menujukkan bahwa halusinasi dan delusi tidak selalu berhubungan dengan penyakit mental serius.

Secara umum, hampir 6% orang yang disurvei mengatakan telah mengalami satu halusinasi atau delusi selama hidup. Pengalaman ini melibatkan pemutusan realitas sebagai 'psikotik' pengalaman.

Pengalaman psikotik lebih banyak dialami kaum hawa dibandingkan pada pria. Di antara perempuan yang disurvei, 6,6% mengalami halusinasi atau delusi di beberapa titik, dibandingkan dengan 5% dari laki-laki, demikian dikutip  NationalGeographic  dari  LiveScience.

Orang-orang yang memiliki pengalaman psikotik biasa terjadi pada mereka belum menikah dan yang tidak memiliki pekerjaan.

Menurut National Institutes of Health, halusinasi bisa normal dalam beberapa kasus. Misalnya, setelah orang yang dicintai meninggal, beberapa orang mendengar suara yang telah wafat tersebut.

Dr Alan Manevitz, psikiater klinis di Lenox Hill Hospital di New York City, AS, mengatakan bahwa sejumlah kondisi kejiwaan dan medis terkait dengan mengalami halusinasi atau delusi.

Kondisi ini termasuk gangguan kepribadian, gangguan stres pasca-trauma, gangguan obsesif-kompulsif, tumor otak, gangguan tiroid, epilepsi, dan penyakit menular tertentu dan obat-obatan.

Ia merekomendasikan bahwa siapa saja yang memiliki episode psikotik, seperti halusinasi atau delusi, harus berbicara dengan dokter nya, dan menjalani tes untuk menyingkirkan kondisi serius.

"Apa yang Anda inginkan adalah untuk berbicara dengan seseorang yang memiliki pengetahuan tentang hal itu untuk memastikan bahwa kerugian sementara ini kontak dengan realitas singkat, dan bukan karena sebab-sebab lain," kata Dr Manevitz. [ikh]

Inilah.com – Headline