Urgensi Pendidikan dan Penanaman Nilai-nilai

FAKTOR ketiga yang menentukan bahagia tidaknya seseorang adalah values (nilai-nilai),menempati ruang pengaruh yang tersisa, yakni 12 persen. Kata “nilai” ini adalah istilah yang bersifat general atau umum yang meliputi semua nilai kebaikan dalam segala aspek kehidupan.

Dalam penelitian psikologi, nilai-nilai ini bertitik tekan pada empat nilai dasar: kepercayaaan (faith), kekeluargaan (family), komunitas (community), dan kerja (work). Penanaman dan pengejawantahan nilai-nilai dalam empat ranah tersebut dipastikan mampu menjadikan seseorang menggapai bahagia.

Nilai-nilai tersebut di atas dalam bahasa Islam bisa dimasukkan dalam cakupan makna adab atau etika seperti yang dikemukakan oleh Imam Hujjat al-Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam beberapa tulisannya terutama Bidayat al-Hidayat dan Majmu’ah Rasa’il nya. Al-Qur’an dan al-Hadits sangat lengkap memberikan panduan nilai pada ranah-ranah tersebut di atas, tentang etika beriman dan beragama, etika berkeluarga dan bermasyarakat, etika bekerja dan bisnis serta lain-lainnya.

Yang paling memiliki peran dalam proses penamanan (internalisasi) nilai dan advokasi nilai-nilai dalam masyarakat adalah lembaga-lembaga pendidikan. Karena itu,demi terwujudnya masyarakat yang bahagia dan sejahtera seperti yang dicita-citakan bersama, dukungan atas lembaga pendidikan yang memiliki concern tinggi atas penanaman nilai etika sangatlah diperlukan. Bukan hanya kecerdasan otak yang perlu untuk senantiasa dilatih, kecerdasan emosional dan spiritualpun membutuhkan hal yang sama.

Tentang kecerdasan otak, IQ, sudah sering dan sejak lama dibahas dan diteliti. Sementara tentang emosional ini, kajiannya relatif banyak pakar psikologi yang mendiskusikannya. Daniel Goleman, misalnya, mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya.

Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

Sementara Cooper dan Sawaf mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut pemilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Howes dan Herald mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Secara umum, Goleman menyebutkan bahwa ada dua (2) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); dan kecakapan sosial atau keterampilan sosial (kepandaian membangun hubungan dan menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Sementara itu kecerdasan spiritual adalah kecerdasan pengelolaan diri dalam hubungannya dengan hal-hal yang transendental dalam kehidupan. Barangkali buku DanahZohar dan Ian Marshal, SQ: Spiritual Intelligence—theUltimate Intelligence, adalah yang pertama mengupas secara detail eksistensi, definisi dan peran SQ dalam kehidupan manusia, walaupun sebenarnya SQ itu sendiri umurnya adalah setua umur kemanusiaan.

Beberapa bukti ilmiah dikemukakan, mulai dari penelitian neoropsikolog Michael Persinger pada awal1990-an dan VSRamachandran di1997 tentang God Spot (titik ketuhanan) dalam otak manusia, penelitian neorolog Austria Wolf Singer era 1990-an tentang “problem ikatan” yang mengungkapkan adanya proses saraf dalam otak yang digunakan untuk memberikan makna atas pengalaman hidup sampai pada penelitian Rodolfo Llinas dan neorolog serta pakarbiologi Harvard, Terrance Deacon, yang memiliki kesimpulan sama tentang adanya peranan tersembunyi yang selama ini terabaikan sementara ia berperan sangat vital dalam kehidupan manusia.

Dalam buku ini, penulis menyatakan beberapa ciri yang dimiliki orang yang telah mendapatkan kecerdasan spiritual secara sempurna, yaitu: 1. Kemampuan bersikap fleksibel; 2.Tingkat kesadaran yang dimiliki tinggi; 3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan; 4.Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit; 5.Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai; 6.Keengganan untuk mengalami kerugian yang tidak perlu; 7.Kemampuan untuk melihat keterkaitan berbagai hal; 8.Memiliki kecenderungan bertanya "mengapa" atau "bagaimana jika" dalam rangka mencari jawaban yang mendasar; 9.Memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri.

Sementara itu, tokoh lain bernama Roberts A. Emmons dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Ultimate Concerns menyatakan lima ciri utama yang dimiliki oleh mereka yang cerdas spiritual(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material; (2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; (3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan untuk berbuat baik; dan (5) the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom kemampuan untuk berbuat amal baik: memberikan maaf, mengekspressikan terima kasih, sederhana dan bersahaja, serta menunjukkan kasih sayang dan kebijaksanaan.

Ketika pendidikan untuk tiga kecerdasan tersebut di atas, IQ, EI, dan SQ, menyatu dalam diri seseorang, maka kemungkinan seseorang itu untuk bahagia menjadi lebih besar. Lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat sentral dalam kontek penanaman nilai dan pengembangan keahlian dalam upaya menggapai kebahagiaan hakiki dalam kehidupan.

Epilog

Setiap orang diberikan modal waktu yang sama dalam sehari semalamnya, yakni 24 jam. Setiap orang diberikan modal otak dan akal yang sama, yang berkembang tidaknya dipasrahkan pada proses kegiatan kehidupannya. Mereka yang belajar dan giat mengembangkan dirinya akan mendapatkan kesempatan untuk memaksimalkan fungsi modal yang dititipkan kepadanya.

Kalau faktor penentu kebahagiaan yang pertama, yakni genetika atau nasab, yang jumlah prosentasenya 48 persen adalah sesuatu yang diluar kemampuan kita untuk memilih, namun dua faktor lainnya, peristiwa positif dan nilai-nilai, yang jumlah akumulasinya 52 persen adalah sesuatu yang bisa kita pilih dan lakukan sendiri. Tebarkan kebaikan-kebaikan dan tanamkan nilai-nilai kebajikan, maka siapapun kita akan menjadi pribadi yang bahagia. [tamat]

 

Inilah.com – Headline