[ad_1]



JAKARTA – PT LCK Global Kedaton berencana melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan melepas sebanyak-banyaknya 200 juta saham baru. Harga saham ditawarkan dalam kisaran Rp138 hingga Rp218 per saham.

Dengan demikian, maka perusahaan jasa konstruksi telekomunikasi ini akan mengimpun dana segar sebesar Rp27,6 miliar hingga Rp43,6 miliar.

Direktur Perseroan Ruben Partogi menjelaskan bahwa perusahaan akan melebarkan lini bisnisnya tahun depan. Perusahaan yang didirikan pada Juli 2013 dan bergerak di jasa konstruksi telekomunikasi, khususnya site information survey (SIS), site acquisition (SITAC), civil, mechanical, electrical (CME), licensed (IMB), radio telecommunication instalation (ITC), dan aktivitas terkait telekomunikasi lainnya.

“Tahun depan, perusahaan akan mengembangakan ini bisnis kepada instalasi fiber optic, maintenance, dan distributed antenna system (DAS),” jelasnya di Hotel JS Luwansa, Senin (18/12/2017).

 Baca Juga: IPO, LCK Global Kedaton Tawarkan Harga Rp138-Rp218/Saham

Ruben mengatakan alasan mengembangkan lini bisnis agar bisnis makin komprehensif, untuk memenuhi persyaratan dari kien.

“Kalau mau berkembang satu TP (tower provider) punya jenis pekerjaan yang macam-macam, kalau kita tolak jenis pekerjaan kita kurang, profesional jadi harus bisa semuanya,” jelas dia.

Dengan menambah lini bisnis, perseroan berharap akan meningkatkan total kontrak yang didapat dari klien. Sepanjang tahun ini perusahaan telah mengantongi kontrak dengan tujuh perusahaan dengan total nilai kontrak sebesar.

Adapun untuk kontrak tahun depan, perusahaan tengah menjajaki perjanjian kerjasama (PKS) dengan lima perusahaan, antara lain, kerjasama yang sedang dijajaki antara lain PT MAC Sarana Djaya, PT Fastel Sarana Indonesia, PT KIN, PT Bali Tower, dan PT ISBS.

 Baca Juga: Realisasi Dana IPO Turun, Direktur BEI: Banyak Perusahaan Kecil Berani Jajal Pasar Modal

Mitra perusahaan di antaranya PT Kreasindo Utama Jaya Solution, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk., PT Tower Bersama Group Tbk., PT Lasmana Swasti Prashida, PT Triview Geospatial Mandiri, PT Centrama Menara Indonesia, dan PT Permata Karya Perdana.

Bersama dengan mitra, perseroan membangun menara milik XL Axiata, Telkomsel, Hutchison 3 Indonesia, dan Smartfren. Proyek perusahaan saat ini tersebar di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB, dan Sulawesi.

Ruben mengatakan dengan perluasan lini bisnis hal tersebut dapat menambah pundi pendapatan perseroan. Hingga akhir tahun, persroan menargetkan dapat mengantongi pendapatan hingga Rp72 miliar. Sejalan dengan perolehan pendapatan, perseroan juga menargetkan laba akhir tahun sebesar Rp11 miliar.

“Untuk Desember 2018, pendapatan ditargetkan mencapai Rp148 miliar dan untuk laba menjadi Rp21 miliar, kata dia.

Sementara itu, pada Juni 2017, telah mengantongi pendapatan sebesar Rp36,64 miliar, naik 381% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2016 sebesar Rp7,62 miliar.

Naiknya pendapatan mendorong peningkatan laba sebesar 212,36% menjadi Rp4,34 miliar dibandingkan pada akhir tahun 2016 yaitu sebesar Rp482,87 juta.

Sementara itu, total aset yang dimiliki oleh perusahaan adalah sebesar Rp94,24 miliar atau naik 199% dari posisi Desember sebesar Rp31,57 miliar.

[ad_2]

Source link