[ad_1]

JAKARTA – Miliarder Indonesia Benny Tjokrosaputro menggugat bank asal Amerika Serikat (AS), Goldman Sachs International sebesar USD1,1 miliar. Gugatan ini diajukan karena Goldman diduga melakukan penjualan saham tanpa sepengetahuan dan persetujuan.

Perkara yang diajukan Direktur Utama perusahaan properti PT Hanson International Tbk (MYRX) tersebut memang menjadi sorotan. Pasalnya, selain menggugat Goldman Sachs, Benny juga turut menggugat Citibank NA. selaku bank kustodian dan PT Ficomindo Buana Registrar selaku biro administrasi efek.

Tidak terima dengan gugatan tersebut, Goldman Sachs balik menggugat Benny. Managing Director, Director of Corporate Communications Goldman Sachs Asia LLC Edward Naylor mengatakan, Goldman menggugat Benny untuk perusakan bisnis dan reputasi akibat tuduhan transaksi ilegal.

Menurutnya, Goldman melakukan pembelian saham MYRX secara legal di pasar reguler. Goldman mengatakan, Benny punya hubungan bisnis dengan Platinum yang merupakan hedge fund berbasis New York.

Ini bukanlah pertama kalinya Benny Tjokro terlibat masalah di pasar modal. Dia mendirikan Hanson pada 7 Juli 1971 dengan nama PT Mayer Tex. Perusahaan tersebut awalnya bergerak di bidang tekstil, lantaran bisnis utama Keluarga Tjokrosaputro semula adalah kain batik.

Benny sendiri adalah cucu dari Kwee Som Tjok (Kasom Tjokrosaputro), pendiri dan pemilik merek merek batik ternama, Batik Keris di Solo.

Pada 1991 Mayer Tex mengubah namanya menjadi PT Hanson Industri Utama Tbk, kemudian berubah menjadi PT Hanson Internasional Tbk pada 2004. Melalui induk usaha Hanson Grup itulah, perkembangan bisnis Keluarga Tjokrosaputro melesat hingga mencakup 41 bidang usaha. Mulai perbatikan, pabrik tekstil dan garmen, pabrik serat sintetis, properti, hotel, konstruksi, pabrik sepatu, angkutan udara, dan beberapa bank.

Pada 1996 total aset dari Hanson Grup diperkirakan mencapai Rp1 triliun. Namun, krisis moneter pada 1997-1998 membuat Pamor Hanson memudar. Hanson pun mengubah lini bisnis mereka ke Batu bara.

Setelah itu, dia berhasil meraih kontrak dari PT PLN senilai Rp28 triliun untuk keperluan pasokan batu bara kepada enam PLTU yang dimiliki oleh PLN selama kurun waktu 20 tahun.

Namun, untuk mengembangkan usahnya tersebut, Benny harus terlibat dalam kasus penggorengan saham Bank Pikko.

Kasus itu bermula dari peningkatan volume perdagangan saham Bank Pikko antara periode Januari sampai Februari 1997. Namun hampir dua bulan kemudian, saham Bank Pikko, melonjak tajam ada penutupan perdagangan saham di lantai bursa.

Lembaga pengawas pasar modal saat itu, Bapepam, mengatakan Benny telah melakukan transaksi saham hingga memperluas kepemilikannya menjadi 4,5 juta saham di Bank Pikko. Transaksi itu dilakukan Benny melalui PT Multi Prakarsa Investama Securities dengan menggunakan nama 13 pihak lain.

Spekulan yang saat itu memperkirakan harga saham Bank Pikko akan turun lalu melakukan transaksi short selling. Akibatnya, 52 dari 127 perusahaan efek gagal menyerahkan saham Bank Pikko. Bapepam pun memberi sanksi kepada Benny untuk mengembalikan keuntungan dari transaksi Bank Pikko sebesar Rp1 miliar kepada Negara.

Selain itu, Benny juga diketahui memasukkan aset propertinya PT Mandiri Mega Jaya ke bursa melalui Hanson dengan skema backdoor listing dengan cara rights issue senilai Rp4,59 triliun pada 2013.

Saham Hanson antara lain dimiliki oleh PT Kencanaraya Nusasemesta (28%) dan PT Dinar Sekuritas (19,5%) dan sisanya oleh publik. Kencana adalah perusahaan yang juga dimiliki oleh Benny Tjrokrosaputro dan pada 11 Agustus 2003, Kencana melepas saham kepemilikan di Hanson.

[ad_2]

Source link