tirto.id


Pada tahun 2007, berbagai aplikasi untuk investasi belum ada. Jangankan aplikasi semacam itu, Facebook dan Twitter juga belum muncul di Indonesia. Anak-anak muda pada tahun itu masih disibukkan dengan akun Friendster.

Steny Agustaf berusia sekitar 32 tahun pada 2007. Wajah Steny cukup terkenal di Indonesia karena ia kerap muncul menjadi pembawa acara di televisi. Sehari-hari, ia bekerja sebagai penyiar radio dan terkadang berperan dalam serial TV.

Saat itu, untuk pertama kalinya Steny bersentuhan dengan pasar modal. Setelah bertahun-tahun bekerja dan hanya menabung, di usianya yang sudah kepala tiga itu, Steny memutuskan membeli reksa dana.

Ia mulai berpikir bahwa uang yang disimpannya di tabungan akan tergerus inflasi. Oleh sebab itu, Steny mulai mencari tahu tentang berbagai kanal investasi. Steny punya teman-teman yang kemudian memperkenalkannya dengan pasar modal.

Ia kemudian mendapat info soal investasi saham. Tetapi ia tak siap dengan risikonya dan tak punya waktu untuk memantau pergerakan harga saham, juga tak punya pengetahuan khusus untuk memutuskan saham apa yang dibeli.

Akhirnya setelah berpikir panjang, ia memutuskan membeli reksa dana saja, dan mempercayakan uangnya kepada manajer investasi. Untuk bisa membeli reksa dana sepuluh tahun lalu, Steny harus datang ke bank dan memiliki dana awal Rp5 juta.

Reksa dana yang pertama kali dibelinya adalah reksa dana pasar uang. Alasannya, karena reksa dana jenis ini memiliki risiko paling kecil. Tetapi imbal hasilnya juga kecil. Ia takut mengambil risiko dengan membeli jenis campuran atau saham.

Steny lalu menghitung-hitung, besaran imbal hasil yang didapatnya dari reksa dana pasar uang hanya terpaut sedikit sekali di atas inflasi. Ia kemudian tertarik membeli reksa dana dengan imbal hasil lebih besar. Ia kemudian membeli reksa dana jenis campuran dan saham.

“Dulu, membeli reksa dana enggak segampang sekarang, dulu kalau penasaran mau ngecek pergerakannya pun harus beli koran ekonomi,” kata Steny, Rabu (2/8).


Sepuluh tahun kemudian, membeli reksa dana atau berinvestasi di produk pasar modal lainnya hanya perlu berselancar dengan gawai, mulai dari laptop, tablet, hingga telepon pintar. Minimal pembelian pun tak sebanyak sepuluh tahun lalu. Saat ini, dengan uang Rp250 ribu pun, seseorang sudah bisa memiliki reksa dana. Nilai reksa dana juga bisa dicek setiap hari, online.

Begitu pula dengan investasi saham. Ada berbagai aplikasi dari para sekuritas yang bisa dipakai. Meski telah dilimpahkan dengan segala kemudahan itu, investasi ke pasar modal oleh masyarakat secara ritel belum diminati dengan masif. Indeks literasinya pun masih konsisten menjadi yang terendah, lebih rendah dari asuransi dan dana pensiun.

Indeks Literasi Pasar Modal yang Masih Jauh Tertinggal

Tahun 2014 lalu, OJK menggelar survei untuk mengukur indeks literasi dan inklusi keuangan. Indeks literasi adalah porsi penduduk Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang jasa keuangan. Sementara indeks inklusi keuangan adalah proporsi mereka yang telah menggunakan jasa tersebut.


Dari survei tiga tahun lalu itu, ditemukan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia hanya 4 persen dari jumlah penduduk. Dua tahun kemudian, tahun 2016, OJK kembali menggelar survei serupa, hasilnya terjadi kenaikan memang menjadi 4,4 persen, tetapi bukan kenaikan yang signifikan untuk waktu dua tahun.

Kalaupun dibandingkan dengan tahun 2013, ketika indeks literasi pasar modal masih di angka 3,7 persen, hasil tahun lalu itu juga tak menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Bandingkan dengan kenaikan indeks literasi perbankan yang mampu naik dari 21,8 persen pada 2013 menjadi 28,94 persen pada 2016. Atau indeks literasi perasuransian yang naik dari 15,76 persen pada 2013 menjadi 17,84 persen tahun lalu. Dari semua sektor jasa keuangan, indeks literasi pasar modal tumbuh paling minim.

“Tingkat literasi di pasar modal paling rendah dari semua industri keuangan. Makanya saya ingatkan kepada pelaku industri, jangan semata-mata menjual produk, sampaikan juga risikonya kepada konsumen dengan jelas,” ujar Horas VM Tarihoran, Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK.

Horas menjelaskan, banyak masyarakat Indonesia yang membeli produk dan menggunakan jasa lembaga keuangan, tetapi tak benar-benar paham apa yang dibeli dan digunakannya. Hal ini tergambar dari data indeks literasi yang lebih kecil dari indeks iklusi keuangan. Tahun lalu, indeks literasi keuangan secara keseluruhan hanya 29,66 persen sementara indeks inklusi keuangan mencapai 67,82 persen.

Bursa Efek Indonesia sebenarnya tak tinggal diam. Berbagai upaya literasi telah dilakukan seperti kampanye ‘Yuk Nabung Saham’. Investor anak muda juga terus disasar. Akun twitter resmi bursa kerap menjelaskan tentang saham dan pasar modal dengan sederhana.

Hingga pertengahan tahun ini, jumlah investor mencapai 1 juta orang, baik investor saham, obligasi maupun reksa dana. Dilihat dari jumlahnya, walaupun ada kenaikan, angkanya masih tetap jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Indonesia. 

Direktur BEI Tito Sulistio berambisi menjadikan BEI sebagai pasar modal terbesar di kawasan Asia Tenggara. Kapitalisasi di pasar modal kini sudah mencapai Rp6.350 triliun. Nilai ini hampir menyaingi dana pihak ketiga yang ada di perbankan. Tetapi tetap saja pengetahuan masyarakat umum tentang perbankan lebih baik ketimbang pasar modal.

Indonesia adalah negara kepulauan yang besar, sementara lembaga jasa keuangan, terutama pasar modal, terpusat di Jakarta. Kalaupun ada kantor-kantor cabang, secara jumlah, ia terpusat di Jakarta dan Jawa. Hal ini, menurut Horas menjadi satu kendala distribusi informasi.

Baca juga
artikel terkait

PASAR MODAL

atau
tulisan menarik lainnya

Wan Ulfa Nur Zuhra


(tirto.id – wan/nqm)

Keyword




Source link