JAKARTA – Indonesia diharapkan fokus pada kesehatan dan perbaikan ekonomi alih-alih menunggu keputusan Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve (the Fed), mengenai penghentian stimulus moneternya. Jika Indonesia dapat memperbaiki situasi ekonomi, investor akan melihat Indonesia dan menanamkan modalnya.

Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, mengatakan Indonesia harus fokus pada kondisi keuangan, serta kesehatan dan perbaikan ekonomi. “Bukan apa yang disampaikan oleh AS. Pada gilirannya, bila itu terjadi, investor lihat kondisi kesehatan masing-masing negara,” ujar Mahendra yang ditemui usai Seminar the Future of Finance: Axis of Stability and Profitability, Senin (23/9).

Pernyataan the Fed yang memutuskan menunda penghentian stimulus moneter dianggap sebagai alarm bagi negara-negara berkembang bahwa stimulus moneter akan dihentikan cepat atau lambat. “Kalau sudah dicabut, lebih baik kita bersiap diri,” ujarnya.

Jika negara-negara berkembang telah bersiap menghadapi penghentian stimulus AS, situasi ekonomi seperti yang terjadi ketika wacana penghentian dikeluarkan tidak akan terjadi. Seperti diketahui, ketika the Fed mengeluarkan wacana akan menghentikan stimulusnya, negara-negara berkembang mengalami aliran modal keluar.

Sebagai respons atas hal tersebut, Indonesia mengeluarkaan paket kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki masalah-masalah struktural seperti defisit transaksi berjalan, inflasi, iklim investasi dan perlambatan ekonomi. “Kita telah mengeluarkan kebijakan. Saat ini kita ada dalam tahap memonitor,” ujar dia. Ia menambahkan, pemerintah siap mengeluarkan kebijakan lanjutan jika dibutuhkan.