INILAHCOM, Jakarta – Saham ASII disarankan beli selama berada di atas Moving Average (MA) 20 dan tambah jika tembus Rp8.050. Sedangkan MAS disarankan hanya untuk yang punya dana nganggur. Mengapa?

Pada perdagangan Kamis (17/4/2014), saham PT Astra Internasional (ASII) ditutup menguat Rp75 (1%) ke Rp7.825. Intraday terendah di Rp7.750 dan tertinggi di Rp7.875. Di sisi lain, saham PT Indomobil Sukses Internasional (IMAS) melemah Rp5 (0,1%) ke Rp4.855 per saham.

Hendra Martono, Vice President Brokerage Strategic Development Henan Putihrai Securities mengatakan, saham ASII mulai break out pada tanggal 14 Maret 2014. Pada tanggal tersebut ASII menguat 7,22% dengan volume yang sangat besar.

Beberapa hari kemudian, turun hingga bottom pada 25 Maret 2014 di Rp7.150. Lalu naik lagi hingga level tertingginya di Rp8.050, pada tanggal 8 April 2014. “Sekarang, laju saham ASII mulai ranging (bolak-balik) sejak 5 April hingga sekarang dengan tertinggi Rp8.050 dan terendah Rp7.350,” katanya kepada INILAHCOM, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hingga akhir April 2014, lanjut dia, saham kemungkinan masih akan ranging antara Rp8.050 hingga Rp7.150. “Sebab, orang masih ragu terkait masalah pemilihan umum. Pasar mempertanyakan, siapa Cawapres Joko Widodo,” ujarnya.

Pertanyaan tersebut, menurut Hendra sangat berpengaruh. Sebab, Jokowi tidak terlalu setuju dengan mobil murah dengan konsep Low Cost and Green Car (LCGC). “Jika Jokowi ternyata terpilih jadi presiden, ditakutkan program mobil murah LCGC dihentikan,” timpal dia.

Meskipun pada kenyataannya, kata dia, produksi LCGC tidak bisa dihentikan karena regulasinya sudah diteken dan berlaku. “Hanya saja, pasar kan seperti anak kecil,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Hendra, pasar seharusnya membiasakan diri mengambil posisi saham yang bagus dengan pola trading. Pasar harus melihat Moving Average (MA) 20-nya dari ASII-IMAS masing-masing.

Misalnya, MA20 (berubah dari hari ke hari) dari ASII Rabu (16/4/2014) adalah di Rp7.638. Selama ASII berada di atas MA20, untuk jangka pendek saham ini masih bullish dan bisa trading buy. “Jika ASII di bawah Rp7.638, lebih bagus trading sell. Jual dulu, tunggu turun, turun, mulai naik, kita beli lagi,” papar dia.

Jika ASII mampu menembus Rp8.050 dengan volume transaksi yang sangat besar, disarankan masuk di ASII karena saham ini termasuk yang terbesar kapitalisasi pasarnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Jika makro ekonomi Indonesia nantinya bersahabat, saham-saham yang bergerak dipastikan yang berkapitalisasi besar seperti ASII. Jika Rp8.050 ditembus, target berikutnya adalah Rp8.450-8.650,” ungkap dia.

Sebaliknya, jika ASII melemah dan menembus ke bawah Rp7.350 yang menjadi support minor-nya, akan melemah menuju support kuatnya di Rp7.150. Jika ternyata pecah juga, support berikutnya adalah Rp6.800-6.675. “Selama di atas MA20, jadi kesempatan kita untuk trading buy atau average up. Jika di bawah MA20, trading sell atau alihkan ke saham lain,” ucapnya.

Sementara itu, soal stock split, ASII belum tentu kembali ke harga asalnya. Sebab, stok split ASII 10 kali. Kalau stock split hanya 2-3 kali, biasanya harga kembali ke sebelum stock split. “Yang stock split 5-10 kali, sulit kembali ke harga semula seperti stock split PT Vale Indonesia (INCO),” papar dia.

Jadi, Hendra menegaskan, harga saham sebelum stock split, tidak bisa dijadikan patokan dan dijadikan target harga. “Apalagi, setelah stock split yang beli pun biasanya kebanyakan investor ritel sehingga susah kembali ke harga semula, sebelum stock split,” tuturnya.

Sedangkan saham IMAS, menurut Hendra, sebenarnya tidak terlalu likuid. Contohnya, pada Rabu (16/4/2014) nilai transaksinya hanya Rp373 juta dan tidak sampai Rp1 miliar sedangkan total valuasi ASII Rp141 miliar. “Untuk saham dengan nilai transaksi harian di bawah Rp10 miliar, lebih baik hindari,” kata Hendra mewanti-wanti.

Akan tetapi, Hendra menggarisbawahi, kadang-kadang untuk saham seperti IMAS, kalau memang Anda punya dana idle cukup besar, bisa masuk tapi jangan lebih dari Rp100 juta. “Kalau ada backdoor listing atau cara-cara tertentu agar sahamnya likuid sesuai peraturan OJK, bisa jadi pemicu kenaikan harga IMAS,” tegas dia.

Hanya saja, jika uang Anda dibelanjakan semua, Rp1 miliar sementara nilai transaksi hanya Rp373 juta, Anda akan kesulitan menjual saham IMAS. “Minimal, 3-4 hari baru bisa kelar. Ini berbahaya,” ucapnya.

Secara teknikal, sejak 7 Februari 2014 hingga sekarang, saham IMAS sedang down trend. Begitu juga dengan tren jangka pendeknya yang dimulai pada 26 Maret 2014. “Untuk saham-saham seperti ini saya sama sekali tidak rekomendasikan,” lagi Hendra mewanti-wanti.

Untuk yang punya dana idel sebesar Rp500 juta bisa spekulasi 10%-nya di saham IMAS. “Sebab, begitu saham seperti ini gerak, bisa mencapai 20%, 30%, bahkan 40% seperti yang terjadi pada PT Indofarma (INAF) dan PT Kimia Farma (KAEF) saat di Rp200-an dan tiba-tiba naik menjadi Rp800-1.500,” imbuhya. [jin]


Inilah.com – Pasarmodal