JAKARTA – Investor di pasar modal masih memberi respons negatif terhadap rencana pemerintah menggabungkan tiga badan usaha milik negara (BUMN) pertambangan ke dalam holding tambang, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Hal ini terlihat dari pergerakan tiga saham BUMN tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di mana tiga calon anak usaha holding tambang yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk cenderung bergerak menurun.

Analis Reliance Securities Lanjar Nafi Taulat berpendapat, hingga saat ini investor dalam kondisi menunggu hasil dari afiliasi dan struktur permodalan yang akan ditetapkan dari holding.

Baca Juga: Sah! Pemerintah Alihkan Saham Antam hingga Freeport ke Inalum

Apalagi pengalihan saham milik pemerintah dari tiga BUMN tambang itu ke holding dinilai menyebabkan perubahan mendasar atas status perseroan sehingga perlu dilakukan tender offer.

“Aksi tersebut masih dicermati investor. Oleh karena itu, investor masih wait and see hingga saat ini,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (28/11/2017).

Wacana tender offer itu sebelumnya pernah dilontarkan Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Tito beralasan bahwa langkah itu perlu dilakukan guna melindungi kepentingan investor minoritas karena terjadi perubahan struktur kepemilikan saham.

 Baca Juga: Ramai-Ramai Beri Wejangan, Jelang Kelahiran Holding BUMN Pertambangan

Pada pergerakan saham PT Antam di Senin 27 November 2017, saham perseroan ditutup melemah lima basis poin ke level 655 atau turun 0,76% dari penutupan perdagangan sebelumnya. Sedangkan PT Timah, ditutup melemah 20 basis poin di level 840 atau terkoreksi 2,33% dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara untuk PTBA ditutup positif pada level 10.900 atau naik 100 basis poin atau 0,93% dari perdagangan sebelumnya.

(dni)



Source link