NS Aji Martono
INILAHCOM, Jakarta – Sepekan ke depan, penguatan IHSG diprediksi terbatas dalam kisaran support 4.555 dan resistance 4.672. Para pemodal disarankan tak rakus mengejar saham naik. Mengapa?

NS Aji Martono, Direktur PT Capital Bridge Indonesia mengatakan, investor niscaya harus bersabar menunggu momentum yang cukup untuk akumulasi saham yaitu saat indeks mengalami penurunan. Karena itu, kata dia, secara umum gunakanlah pola buy on weakness. Sebab, penguatan indeks akhir Februari ini kemungkinan terbatas.

Sangat bijak, lanjut Aji, jika investor menggunakan pola itu. “Unsur kehatian-hatian dan prudent tetap diperlukan. Tetap lakukan bauran pertimbangan fundamental dan teknikal untuk mengurangi potential loss yang mungkin terjadi pada kantong portofolio investor,” katanya kepada INILAHCOM.

Pada perdagangan Jumat (21/2/2014) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 47,93 poin (1,04%) ke posisi 4.646,153. Intraday terendah 4.613,899 dan tertinggi 4.650,46.

Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net sell. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Mengakhiri pekan lalu, IHSG kokoh di atas 4.600. Apa pandangan Anda?

IHSG melambung memang sesuai dengan prediksi selama bertahan di atas resistance 4.494. Inilah yang dibuktikan. Setelah pecah angka tersebut, terus turun tipis tapi tidak menyentuh angka 4.494, laju indeks pun melambung.

Faktor apa saja yang mendukung penguatan indeks?

Kenaikan indeks dipicu oleh aliran capital inflow yang terus merangsek masuk melalui capital market. Asing melihat potential gain yang besar dan kuat di pasar modal Indonesia. Penguatan indeks juga diperkuat oleh penguatan nilai tukar rupiah sehingga kelihatan capital inflow bakal terus masuk.

Itu juga menunjukkan, pertimbangan investor yang sudah kembali pada faktor fundamental yang jadi alasan memasukkan saham dalam portofolio mereka. Di sisi lain, jika terjadi profit taking, justru jadi momentum masuk karena mendapatkan harga lebih rendah.

Lantas, apa proyeksi Anda atas laju IHSG sepekan ke depan?

Dalam sepekan ke depan, saya sarankan hati-hati. Kekuatan bull market masih terlihat dalam perdagangan sepekan ke depan. Hanya saja, dengan kenaikan yang cukup signifikan dalam sepekan terakhir, tetap saja investor harus eksra antisipatif atas kemungkinan koreksi.

Level support dan resistance yang mungkin diuji oleh indeks?

IHSG yang terakhir di level 4.646, memiliki support di 4.555. Kemungkinan, selama support tersebut masih bertahan, target resistance indeks sepekan adalah 4.672. Saya melihat, potensi kenaikan indeks terbatas.

Meski sepekan ke depan merupakan pekan terakhir pada Februari di mana banyak bonus yang telah diberikannya, antisipasi profit taking juga cukup besar. Karena itu, kisaran perdagangan yang tipis pun bisa saja terjadi.

Bagaimana dengan laporan kinerja emiten, apakah masih menjadi faktor penggerak indeks sepekan ke depan?

Dari sisi laporan keuangan, dalam sepekan ke depan belum banyak emiten yang merilisnya. Sejauh ini baru laporan internal saja. Meski baru sebatas internal, investor juga sebenarnya menjadikan kinerja emite sebagai alasan masuk sahamnya.

Jika kinerja 2013 bagus, 2014 pun akan bagus. Sebab, faktor politik 2014 saya kira tidak terlalu berpengaruh pada kinerja fundamental emiten. Iklim politik 2014 juga tidak akan memicu gejola pada ekonomi. Ini juga jadi alasan bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham bluechips dan saham-saham BUMN.

Apakah capital inflow masih akan terus merangsek masuk ke pasar domestic?

Capital inflow yang terus masuk juga akan memicu bargaining position pada saham-saham yang mengalami penurunan terutama pada saham-saham bluechips di sektor perbankan dan properti. Ini masih menjadi titik tolak di mana masih terjadi perburuan seperti pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Mandiri (BMRI) yang luar biasa.

Begitu juga dengan pergerakan saham-saham di sektor properti seperti PT Bumi Serpong Damai (BSDE), PT Summarecon Agung (SMRA), PT Alam Sutera Realty (ASRI), PT Ciputra Surya (CTRS) yang mengalami kenaikan luar biasa.

Dalam situasi ini, apa saran Anda untuk para pemodal?

Penguatan IHSG sepekan ke depan adalah penguatan terbatas, karena pasar melihat, laju indeks yang sudah cukup jenuh dari posisi tawar. Investor pun harus hati-hati terutama di saham-saham bluechips. Jangan sampai, yang masih punya cash saat ini digunakan untuk bargaining pada saham-saham di harga atas.

Meskipun, harga di atas belum tentu harga mahal. Sebab, posisi indeks masih cukup bagus apalagi dengan adanya capital inflow yang berpeluang berlanjut dalam sepekan ke depan. Karena itu, kalau bisa, pembelian saham harus benar-benar dipilah-pilah terutama untuk saham-saham bluechip. Faktor teknikal juga harus benar-benar diperhatikan untuk posisi masuk pada saham-saham tersebut.

Setiap koreksi IHSG bisa dijadikan alasan untuk bargaining position di saham-saham perbankan maupun properti jika turun untuk diakumulasi.

Spesifik saham-saham pilihan Anda?

Saham pilihannya, PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Bank Jabar-Banten (BJBR), PT Bank Tabungan Negara (BBTN), dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM). Saham-saham tersebut agak tertinggal sehingga kemungkinan bisa mengejar ketertinggalan dari kenaikan di sektornya.

Untuk saham bank lain, lebih baik diperhatikan saat saham-saham tersebut mengalami koreksi untuk kembali akumulasi beli seperti BBRI, BMRI, PT Bank Central Asia (BBCA), maupun PT Bank Danamon (BDMN).

Selain pilihan di sektor bank?

Pilihan di sektor properti, saya melihat di saham ASRI, PT Surya Semesta Internusa (SSIA), dan PT Summarecon Agung (SMRA). Saham-saham tersebut meski akhir pekan lalu mengalami kenaikan, tapi peluang bargaining position pada saham-saham tersebut masih cukup.

Kalau melihat yang sudah menguat tajam seperti PT Lippo Karawaci (LPKR), PT Ciputra Surya (CTRS) dan PT Bumi Serpong Damai (BSDE), investor juga sebaiknya melihat, apabila terjadi koreksi yang cukup dalam, mengambil posisi pada saham-saham tersebut masih memungkinkan.

Bagaimana dengan saham-saham di sektor perkebunan dan konstruksi?

Saya juga melihat positif saham-saham di sektor agribisnis. Investor bisa melirik kembali saham PT London Sumatera Plantation (LSIP) untuk akumulasi, PT BW Plantation (BWPT), dan PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS). Tiga saham tersebut cukup menarik untuk sektor agribisnis.

Di sektor konstruksi juga manarik. Saham PT Adhi Karya (ADHI) sebagai penggerak. Tiga saham konstruksi lainnya, PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PTPP) dan PT Waskita Karya (WSKT) layak untuk diakumulasi.

Secara umum, bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?

Dari keempat sektor saham tersebut, investor sebaiknya mulai hati-hati. Lihatlah koreksi yang lebar pada saham-saham tersebut untuk akumulasi. Karena itu, bauran pertimbangan fundamental dan teknikal menjadikan investasi lebih menarik.

Kalaupun IHSG terkoreksi dalam sepekan ke depan, empat sektor tadi harus dipilah-pilah untuk diakumulasi—perbankan, properti, agribisnis, dan infrastruktur. Koreksi saham pada keempat sektor tersebut bisa menjadi alasan untuk kita kembali masuk ke pasar. Apalagi, yang dalam tiga pekan terakhir sudah mengantongi keuntungan sehingga saat ini memegang cash.

Jangan terlalu rakus untuk terus mengejar saham yang terus menguat. Investor niscaya harus bersabar menunggu momentum yang cukup apabila indeks mengalami penurunan terutama di empat sektor yang saya sebutkan.

Jadi, secara umum gunakan pola buy on weakness. Sebab, penguatan indeks akhir Februari ini kemungkinan terbatas. Sangat bijak jika investor menggunakan pola buy on weakness dalam sepekan ke depan. Unsur kehatian-hatian dan prudent tetap diperlukan. Tetap lakukan bauran pertimbangan fundamental dan teknikal untuk mengurangi potential loss yang mungkin terjadi pada kantong portofolio investor. [jin]