[ad_1]

JK Harap Aliran Modal Dalam Negeri di Pasar Modal Meningkat

Ilustrasi IHSG. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengharapkan pasar modal Indonesia bisa menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar ke perekonomian nasional. Hal ini penting guna menjaga momentum perekonomian di tahun 2018 ini.

“Kenaikan investment grade artinya kepercayaan terhadap Indonesia membaik, tapi yang perlu menjadi perhatian adalah 60 persen yang menanamkan uangnya di pasar modal itu dari luar, jadi untung dan ruginya lari keluar, multiplier-nya tidak besar,” kata JK dalam pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di gedung BEI, Jakarta, Selasa (2/1).

JK berharap, investasi dan aliran modal dari dalam negeri akan meningkat sehingga pasar modal punya efek berganda. “Ini peranan Asosiasi Perantara Efek bagaimana menciptakan permintaan dalam negeri, yakni dengan menurunkan bunga deposito,” ujarnya.

Meski demikian, rekor baru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertinggi sepanjang sejarah dan empat tertinggi di bursa efek utama kawasan Asia Pasifik, serta tertinggi selama 10 tahun di dunia memicu investor bertahan di pasar modal Indonesia, bahkan menarik masuknya investor baru ke BEI. Tercatat tahun lalu, IHSG mampu tumbuh sebesar 19,9 persen dan ditutup di level 6.355,65.

JK mengatakan, pelaku usaha wajib bersyukur karena semua indikator ekonomi tahun lalu membaik meski tidak lari kencang. “Kita wajib bersyukur karena semua ekonomi indikator membaik walaupun terjadi anomali kenapa larinya tidak kencang,” kata JK.

JK menganalogikan kinerja pasar modal dan perekonomian dengan kesehatan manusia, dimana ada tekanan darah yang baik, hingga kolesterol. “Tapi kenapa tidak secepat negara lain (pertumbuhan ekonominya, Red). Apalagi, inflasi rendah, utang terjaga, politik nasional baik dan stabil. Harga komoditas yang dulu dikambinghitamkan sudah baik, tahun baru juga aman,” kata Kalla.

Menurut Wapres, suhu politik tidak terlalu berpengaruh pada kinerja pasar modal. “Tidak ada bukti selama tiga kali tahun politik ada kerusuhan. Itu hanya pikiran masa lalu karena kampanye berbeda, dulu kumpulkan massa. Sekarang kampanyenya di maya, di medsos, jadi berbeda sekali,” jelasnya.

Sementara dalam pembukaan perdagangan BEI tahun 2018 JK didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Sumber: Suara Pembaruan

[ad_2]

Source link