JAKARTA – Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wahyudi menilai kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) akan menghambat industri manufaktur, namun tetap menguntungkan beberapa eksportir yang mengandalkan bahan baku lokal.

“(Kenaikan BI Rate) Sudah pasti (menghambat industri manufaktur), tapi itu kan suatu pilihan ya, kita kan juga ingin menjaga stabilitas mata uang kita. Tapi sektor yang bahan bakunya dari dalam negeri, sudah tentu kalau dia ekspor, maka dia untung banget kalau harga dolarnya tinggi,” kata Benny kepada wartawan di Jakarta, Jumat (13/9).

Sebaliknya industri yang mengandalkan bahan baku impor dan harus menjual produknya di dalam negeri akan terbebani dengan kenaikan BI Rate. “Yang paling untung dengan situasi krisis ini adalah industri yang berbahan baku dalam negeri, tapi melakukan ekspor seperti industri rotan, furnitur, serta makanan berbasis lokal. Tapi kalau industri yang bahan bakunya impor, itu akan merasakan kerugian,” ujarnya.

Sebelumnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Kamis (12/9) memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,25 persen. Adapun suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen dan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.

BI menyatakan kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah-langkah lanjutan dari penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia yang difokuskan pada pengendalian inflasi. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah serta untuk memastikan berlangsungnya penyesuaian defisit transaksi berjalan pada tingkat yang sustainable. |Ant|