Oleh: Kiai Maman Imanulhaq

Selamat datang Ramadan mulia.
Engkau datang membawa pesan cinta.
Sebuah rahmat bagi semesta.

Allah menghadirkan Ramadan pada urutan kesembilan penghitungan hijriah. Seperti masa seorang bayi dalam kandungan atau rahim ibunya, Ramadan memeluk umat manusia dengan kasih sayang Allah Ar-Rahiim.

Rahim ibu adalah tempat pertama semua manusia merasakan kasih sayang atau rahmat Allah. Semangat kerahmatan itu yang ingin ditebar Ramadan agar kehidupan semakin baik dan indah. Ramadan dengan seluruh ritual kesalehan di dalamnya akan membentuk karakter manusia yang memiliki semangat cinta sejati: cinta yang merawat dan memekarkan kehidupan.

Cinta kasih adalah kekuatan untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama manusia dalam kehidupan yang luas, jauh, dan mendalam. Sebuah energi hidup yang melampaui identitas dan primordialitas tanpa memandang suku, ras, jenis kelamin, ideologi, dan bahkan keyakinan atau agama. Dengan sikap kasih ini, maka sikap yang jernih, objektif, dan adil, akan muncul dalam perilaku keseharian maupun saat memutuskan sebuah perkara yang melibatkan orang lain yang berbeda.

Filosofi kerahmatan Ramadan akan menggerakkan revolusi mental yang kokoh dan revolusi sosial yang progresif. Sebuah revolusi yang menyentuh persoalan yang luas dan beragam. Mulai cinta kasih personal, pasangan, keluarga, lingkungan, dan manusia secara luas. Semakin luas jangkauan cinta kasih seseorang, akan semakin berkualitaslah kemanusiaannya.

Hadis Nabi mengatakan,“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.” Hadis Nabi lainnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi mengatakan,“Orang yang menunjukkan cinta kasih kepada sesamanya akan dicintai oleh Yang Maha Pengasih. Cintailah mereka yang di bumi, maka Allah yang di ‘langit’ akan mencintai kamu.”

Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara saat ini, kita diingatkan sabda Nabi Muhammad bahwa surga merindukan empat golongan, yaitu: orang yang menjaga ucapan, orang yang memberi makanan kepada yang ditimpa kesusahan, orang yang membaca Alquran, dan orang yang puasa di bulan Ramadan.

Puasa, ith’am (memberi makan), iktikaf dan tadarus Alquran merupakan aktivitas yang ada pada bulan Ramadan dan seharusnya memberi dampak positif dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh elemen masyarakat, termasuk para tokoh akan berusaha menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan pernyataan-pernyatan kontraproduktif. Saatnya para tokoh menjaga negara dan bangsa dengan memberi keteladanan. Bukan justru memperlihatkan sikap saling mendegradasi atau menghujat, bahkan menjatuhkan satu sama lain.

Menerapkan kerahmatan Ramadan adalah dengan mengganti energi berpolemik untuk hal-hal yang tidak jelas dengan memfokuskan diri dalam menangani persoalan yang lebih krusial, yaitu mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan memprioritaskan sektor pendidikan. Karena rendahnya kualitas pendidikan akan mengakibatkan bertambahnya masyarakat yang miskin. Dan kemiskinan menjadi faktor utama terjadinya konflik.

Kerahmatan Ramadan akan terlihat saat semangat berbagi di antara umat manusia. Tidak akan ada semangat saling membenci, saling mengalahkan, dan saling meniadakan. Yang ada adalah semangat toleransi dan lapang dada untuk memungut kebaikan, keindahan, dan hikmah dari mana pun datangnya kebaikan itu. Seorang yang mendapat pelukan kasih Ramadan akan menyosialisasikan kebaikan dan kebenaran dengan cara yang baik pula, bukan dengan cara mendesak, memaksa, mengintimidasi, atau apalagi dengan cara-cara teror dan kekerasan.