OJK PERBANYAK INSTRUMEN AMAN DAN MENGUNTUNGKAN (4-habis)

Kinerja Pasar Modal
Oleh Devie Kania dan Grace Eldora | Minggu, 13 Agustus 2017 | 1:16

Sementara itu, dari sisi
kinerja, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI sejak awal 2017 hingga saat
ini sempat beberapa kali melewati rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni pada
level 5.910. Sedangkan selama tahun berjalan (year to date/ytd) hingga 11 Agustus, IHSG menguat 8,86% di level
5.766,13.

 

Adapun kapitalisasi pasar
saham Indonesia mengalami penguatan hingga 11,24% dari Rp 5.753 triliun pada
akhir Desember 2016 menjadi Rp 6.400 pada 31 Juli 2017. Rata-rata nilai
transaksi harian saham periode Januari hingga Juli 2017 mencapai Rp 7,51
triliun, naik 24,5% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 6,03 triliun.
Rata-rata frekuensi harian saham Januari hingga Juli 2017 mencapai 314 ribu
kali, naik 27,37% dibandingkan tahun lalu sebanyak 246 ribu kali transaksi.

 

Investor asing secara ytd
masih membukukan pembelian bersih (net buy) saham di BEI, meski jumlahnya terus
menipis menjadi Rp 4,29 triliun per 11 Agustus dibanding 19 Mei lalu yang
mencapai Rp 28,01 triliun. Net buy asing sepanjang tahun lalu mencapai Rp 16,17
triliun.

 

Di sisi lain, komposisi
kepemilikan efek saham oleh investor domestik per akhir Juli 2017 naik menjadi
46,73% dibandingkan posisi akhir 2016 sebesar 45,51%.

 

Direktur Utama BEI Tito
Sulistio menargetkan jumlah penawaran umum perdana (initial public of fering/IPO) saham tahun ini mencapai 35
perusahaan. Hingga Agustus, perusahaan yang menggelar IPO dan mencatatkan saham
di BEI berjumlah 21 perusahaan. Adapun akumulasi nilai obligasi pemerintah
(surat utang negara/SUN) telah mencapai Rp 3.400 triliun dan obligasi korporasi
Rp 700 triliun.

 

Direktur Penilai Harga Efek
Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency/IBPA) Wahyu Trenggono kepada Investor
Daily mengungkapkan, biasanya obligasi korporasi mencapai 20% dari total
obligasi pemerintah. “Jadi, surat berharga negara (SBN), khususnya SUN, lebih
dominan,” tutur dia.

 

Menanggapi keinginan OJK mengkaji
kembali regulasi untuk instrumen obligasi, seperti kontrak investasi kolektif
efek beragun aset (KIK EBA) dan over the
counter
(OTC market), Wahyu
Trenggono mengatakan, rencana itu sangat positif.

 

“Ini sesuatu yang bagus,
karena selama ini OTC bisa merugikan pelaku pasar obligasi. Investor perlu
standardisasi harga di pasar sekunder obligasi,” tandas dia. (az)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Source link