Bisnis.com, JAKARTA – Pengusaha sekaliber Chairul Tanjung ternyata pernah merasakan penyesalan dalam berbisnis terutama saat kehilangan momentum untuk membeli saham korporasi besar di pasar modal.

Persisnya saat krisis ekonomi menerpa Indonesia pada 1998-1999. Bos CT Corp ini nampaknya tak bisa menutupi kekecewaanya ketika tidak memanfaatkan kesempatan membeli saham PT.Astra International Tbk saat saham perusahaan otomotif itu berada pada titik terendah akibat hantaman krisis.

“Rezeki tak bisa diraih, malang tak mampu ditolak, saya kehilangan kesempatan itu ,” cerita CT dalam buku memoarnya “Chairul Tanjung Si Anak Singkong (Kompas, 2012) yang disusun oleh Tjahja Gunawan Diredja.

Ceritanya begini, pada saat kinerja PT.Bank Mega yang diambilalih oleh CT secara de facto pada akhir 1995 itu makin baik, keuntungan terus diraih dan uang pun datang miliaran. CT membeli bank itu diawali tawaran dari Arbali Sukanal, Dirut Bapindo, karena bank itu ‘sakit’, 90% kredit macet.

Pada 1999 itu, Bank Mega mencatatkan keuntungan hingga Rp240 miliar. Uang itu akhirnya disetor kembali sebagai modal bagi bank sehingga Bank Mega saat itu melejit menjadi bank menengah pada tahun yang sama.

“Dengan uang sebesar Rp240 miliar pada 1999, bila dibelikan saham Astra, maka waktu itu dipastikan saya merupakan pemegang saham mayoritas di perusahaan otomotif itu. Bayangkan, ketika itu harga saham Astra hanya Rp145 per lembar,” kata salah satu orang terkaya di Indonesia ini.

CT juga pernah suatu saat makan siang bersama dengan Menteri Keuangan era itu yakni Fuad Bawazier, Dirut Bank Dagang Negara Salahuddin Nyak Kaoy, dan Dirut Astra International Rini Suwandi. Sayang tawaran memborong saham Astra ditolak Rini secara halus.

“Bu Rini, saya punya uang nih. Kalau saya belikan saham Astra, saya bisa-bisa menjadi pemilik mayoritas. Menurut Ibu bagaimana? tanya CT ke Rini.

“Jangan deh Pak Chairul, saya sendiri terus terang kurang yakin apakah Astra masih bisa selamat melewati krisis ini atau bahkan hancur bersama dengan yang lain,” jawab Rini pesimistis.

Tapi kondisi berbicara lain. Nyatanya, kinerja Astra terus bertumbuh dan melewati semua krisis baik 1999 hingga krisis global pada 2008. Per 15 November 2013, saham Astra tercatat Rp6.300 per saham. Sebelum stock split, saham Astra bahkan menembus Rp70.000 per saham.

Tahun lalu, Astra International dan anak usahanya mencatatkan pendapatan bersih Rp188,1 triliun, naik 16% dari 2011 sebesar Rp162,6 triliun. Hal ini mendorong kenaikan laba bersih Astra sebesar 9% dari Rp 17,8 triliun menjadi Rp19,4 triliun pada tahun lalu.

 

Editor : Yusran Yunus