JAKARTA – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi) cukup sulit. Harga komoditas sudah tidak lagi tinggi dan likuiditas yang ketat jadi penyebabnya. Kondisi likuiditas saat ini sudah terlampau tinggi hingga 93% sehingga, mau tidak mau pola pendanaan bergeser melalui pasar modal.

”Zaman Pak Jokowi harga komoditas turun, LDR (Loan to Deposit Ratio) naik 93% memang sudah tinggi, susah. Nah sekarang mau cari pendanaan mau tidak mau lewat pasar modal dana investasi jangka panjang, pasar modal berikan kemudahan akses infrastruktur dari go public,” ujarnya di Jakarta.

Kondisi ini, kata dia, bisa dibilang mengerikan karena sebenarnya Indonesia memiliki perekonomian yang kuat. Hanya saja tidak likuid. “Ngeri juga ya ekonomi kita kuat tapi memang tak likuid, mau enggak mau kalau LDR sudah 93% susah. Waktu 2004 diperbaiki BPPN LDR 80% dihapus, utang-utang right off waktu itu,” tuturnya.

Sehingga, Tito menyampaikan, waktu itu LDR cuma 30% pada 2004, lalu harga komoditas naik. Jadi, dinilainya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada dalam era yang lebih enak dari Jokowi yang menaikkan LDR dari 30% ke 90% selama sepuluh tahun dan harga komoditas naik.

”Struktur finansial satu perusahaan pada zaman dulu sepertiga ekuitas, dua pertiga utang bank. Sekarang efisien, perbankan juga uangnya banyak dari obligasi pasar modal. Jadi, sepertiga perbankan, sepertiga ekuitas, sepertiga obligasi, memang di dunia begitu karena dana jangka panjang dari sana,”ungkapnya.



Source link