JAKARTA — Mata uang rupiah di pasar domestik Jumat (4/10) pagi bergerak stabil di posisi Rp11.315 per dolar AS seiring dengan pelaku pasar yang cenderung mengambil posisi menunggu sentimen baru. “Pasar sedang wait and see mengantisipasi langkah pemerintah AS terhadap batas utang dan terhentinya kegiatan operasional sebagian departemen (partial shutdown) AS,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (4/10).

Ia menambahkan di pasar keuangan beredar kabar bahwa kelompok Partai Republik di AS akan membiarkan terjadinya gagar bayar (default) pada utang pemerintah AS. Anggaran pemerintah AS diperkirakan habis dan hanya bisa ditutupi dengan cara menaikkan pagu utang (debt ceiling). Kondisi itu, menurut dia, akan membuat mata uang dolar AS tertekan terhadap mata uang dunia, termasuk rupiah. “Rupiah diperkirakan masih dapat bertahan di area positif, apalagi data ekonomi Indonesia mencatatkan perbaikan,” kata dia.

Kepala riset monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan bahwa potensi penguatan nilai tukar domestik masih terbuka seiring dengan wacana kalangan analis bahwa the Fed akan menunda pengurangan stimulus keuangannya. “Selain itu, plafon utang danshutdown pemerintah AS menjadi alasan utama mengapa dolar AS tidak mampu diperdagangkan menguat,” ujarnya.

Ia mengatakan nilai tukar dolar AS akan cenderung tertekan terhadap mayoritas mata uang dunia, menyusul belum adanya sinyal kapan berakhirnya partial shutdown AS. |Ant|