Pekan lalu, jutaan siswa sekolah dasar (SD) melangsungkan ujian nasional (UN). UN SD sekaligus menjadi penutup UN yang digelar untuk tingkat pendidikan wajib belajar 12 tahun. Digelarnya UN juga menjadi penanda babak baru tahun ajaran sekolah. Jika pasca-UN siswa harap-harap cemas menanti hasil ujian, bisa jadi orangtua siswa dobel cemasnya.

Cemas mereka bertambah karena harus memikirkan biaya pendidikan anak untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Direktur dan Senior Partner OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mencermati, biaya pendidikan membengkak tiap tahun. Rata-rata inflasi pendidikan tiap tahun mencapai 14%–15%. Inflasi tersebut belum menghitung uang pangkal dan biaya lain seperti buku dan kebutuhan kursus atau les tambahan.

Sementara, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno berpendapat, demi kemajuan anak, pendidikan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditangguhkan. Jadi, berapa pun besar biaya, orangtua punya kewajiban untuk menyekolahkan anak.

Jika keluarga memiliki alokasi dana khusus untuk pendidikan tentu, biaya pendidikan tak akan menjadi masalah. Tapi, masalah akan muncul jika ternyata keluarga tidak menyiapkan dana pendidikan jauh-jauh hari sementara tahun ajaran baru akan dimulai dua bulan hingga tiga bulan lagi.

Alternatif pembiayaan

Lantas, apa yang bisa dilakukan orangtua jika menghadapi kondisi sulit ini? Berikut beberapa alternatif mencari pendanaan yang disarankan perencana keuangan.

1. Menjual aset

Menjual aset bisa dilakukan untuk mendapatkan dana. Namun, tak sembarang aset disarankan untuk dijual. Perencana keuangan dari Prime Planner Family M. Ichsan menyarankan, untuk mendapatkan dana dalam waktu singkat, sebaiknya, Anda memilih aset yang memiliki likuiditas tinggi alias mudah dijual. Contohnya emas batangan maupun perhiasan.

Emas memiliki beberapa keunggulan, seperti bisa dijual di banyak tempat, nilai jual bisa diprediksi karena ada patokan harga yang berlaku umum, dan bentuknya ringkas. Jadi, keluarga tak perlu bingung pasang harga dan melakukan tawar-menawar.

Hanya, jika menjual emas perhiasan, Anda mesti paham nilai jual jauh lebih kecil ketimbang emas batangan. Sebab, harga beli emas perhiasan memuat harga pembuatan, sementara ketika dijual, harga pembuatan tak dihitung.

Budi menambahkan, untuk kebutuhan dana dalam waktu singkat, jangan menjual aset seperti rumah dan tanah. Selain likuiditas tak tinggi, menjual properti memerlukan perencanaan lebih matang.

Selain aset likuid, Anda bisa menjual aset yang tidak produktif. Misal, keluarga memiliki kendaraan lebih dari satu, padahal keluarga tersebut sebenarnya bisa tetap melakukan aktvitas dengan satu kendaraan. “Menjual aset tak produktif juga bisa mengurangi pengeluaran rutin seperti biaya perawatan, karena meski jarang dipakai tapi perawatan jalan terus,” beber Ichsan.

Mike bilang, barang lain seperti barang elektronik bisa juga dijual. Syaratnya sama, yakni sejauh tidak mengganggu aktivitas pokok keluarga seperti berkaitan dengan pekerjaan. Namun, harga jual barang elektronik biasanya anjlok. Jadi, keluarga jangan berharap bisa mendapatkan harga jual tinggi.

2. Menggadaikan aset

Kalau Anda ingin mendapatkan dana tapi tak mau kehilangan aset kesayangan, menggadaikan barang bisa menjadi pilihan. Agar prosedurnya jelas, sebaiknya Anda menggadaikan di tempat yang sudah memiliki prosedur jelas seperti di Perum Pegadaian.

Melongok website Perum Pegadaian, perusahaan pelat merah ini menawarkan layanan gadai bertajuk Kredit Cepat dan Aman (KCA). Barang-barang yang bisa digadaikan di antaranya emas dan perhiasan, kendaraan bermotor, barang elektronik, kain, dan alat rumahtangga.

Nilai pinjaman yang bisa diberikan antara Rp 20.000 hingga Rp 200 juta. Sementara, waktu pinjaman maksimum 120 hari atau empat bulan dan setelah jatuh tempo bisa diperpanjang. KONTAN pernah memberitakan bahwa April lalu Perum Pegadaian telah menurunkan bunga gadai dari 1,2% menjadi 1,15% per bulan. Perum Pegadaian menjanjikan dalam waktu 15 menit proses gadai bisa dilakukan.

Dibandingkan dengan menjual barang, para perencana keuangan memperkirakan, dana yang didapat dari gadai akan lebih kecil. Sebab, pihak pegadaian biasanya memberikan dana tak sampai 100% dari taksiran harga barang versi mereka. Di samping itu, ada bunga yang harus dibayar setiap 15 hari. Pembayaran bunga tersebut sebagai bentuk komitmen bahwa pihak yang menggadaikan barang masih berkeinginan menebus barangnya dalam tempo empat bulan tersebut.

Budi mengatakan, sebuah keluarga harus memikirkan bagaimana cara membayar bunga dan mengumpulkan uang sejumlah yang didapat dari pegadaian. Dalam kondisi kebutuhan banyak dan harus dipenuhi dalam waktu singkat tersebut, hal yang bisa dilakukan oleh keluarga adalah menghemat pengeluaran atau mencari pendapatan tambahan. “Memang harus ada pengorbanan demi semua terpenuhi,” kata Budi.

Mike dan Ichsan berpendapat sama. Mike mengatakan, keluaga bisa mulai menyisir kebutuhan variabel untuk dihemat. Kebutuhan variabel adalah kebutuhan yang masih bisa dinegosiasikan kegunaan dan besarannya. Misal, mengambil atau menghilangkan pos dana yang masih bisa ditangguhkan atau membeli barang kebutuhan dengan harga yang lebih murah.

3. Mencari pinjaman

Pilihan lain mencari dana adalah dengan mencari pinjaman. Para perencana keuangan menyarankan, pinjaman lunak semestinya menjadi alternatif utama, seperti meminjam dari kerabat atau memanfaatkan pinjaman kantor. Meski tak ada prosedur khusus dalam pinjaman kerabat, tapi keluarga mesti punya komitmen tinggi untuk melakukan pelunasan. Cara mencari dana untuk melunasi pinjaman sama dengan saran menggadaikan barang.

Jika pinjaman lunak tak ada, terpaksa pilihan jatuh pada pinjaman yang ditawarkan lembaga keuangan seperti kredit tanpa agunan (KTA) dan pinjaman dari kartu kredit. Besaran bunga yang ditawarkan beragam, tergantung pihak yang mengeluarkan produk. Namun, di pasaran, bunga kartu kredit bisa sampai 3,5% per bulan, sedangkan bunga KTA sekitar 2% per bulan. Harus Anda ingat, bunga kartu kredit dan KTA ini bersifat flat.

Pilihan lain adalah kredit pendidikan yang dikeluarkan sejumlah bank perkreditan rakyat (BPR). Mengambil contoh PD BPR Bank Solo, BPR ini mengutip bunga 1% per bulan untuk pinjaman yang dilakukan pada Juni hingga Agustus. Plafon pinjaman bisa sampai Rp 75 juta dengan waktu pelunasan hingga delapan tahun.

Syarat mendapatkan dana ini adalah dengan menjaminkan surat keputusan pengangkatan karyawan alias (SK), baik untuk pegawai negeri maupun swasta.

Mau memilih pinjaman apa pun, para perencana keuangan mewanti-wanti keluarga untuk menakar kemampuan dan kewajiban untuk melunasi. Sebab, utang apa pun akan menjadi beban keuangan keluarga. |kontan.co.id|