Menggalang Dana dari Pasar Modal
Selasa, 29 Agustus 2017 | 10:06

Lantai bursa. Foto ilustrasi: Majalah Investor/UTHAN A RACHIMLantai bursa. Foto ilustrasi: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Pasar modal Indonesia masih menjadi sumber
penggalangan dana (fundraising)
yang menjanjikan. Buktinya, dana yang berhasil digalang dari pasar modal domestik
terus meningkat, baik melalui penawaran umum perdana (initial public
offering/IPO)
saham, emisi obligasi korporasi, maupun lewat penerbitan saham baru untuk
menambah modal (rights issue).

 

Selama tahun berjalan (year to date/
ytd) atau sejak Januari hingga Agustus 2017, mobilisasi dana dari pasar modal dalam
negeri mencapai Rp 153,65 triliun, naik 42% dibanding periode sama tahun silam.
Bila kondisinya tetap kondusif, penggalangan dana dari pasar modal tahun ini
bisa menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, mengalahkan tahun lalu senilai Rp
195 triliun.

 

Besarnya dana yang dijaring dari pasar modal tahun
ini mengindikasikan para penggalang dana, di satu sisi, dan para pemilik dana
(investor), di sisi lain, sama-sama optimistis bahwa prospek perekonomian
nasional tetap cerah. Ini sekaligus menunjukkan bahwa para pencari dana maupun pemilik
dana menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap pasar modal dalam negeri.

 

Tingginya kepercayaan para investor terhadap pasar
modal domestic bisa dimaklumi. Pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG)
di Bursa Efek Indonesia (BEI) memecahkan rekor ter tinggi di level 5.915,36.
Indeks saham berpeluang rally menuju level 6.000-6.200 pada pengujung tahun ini
dengan beberapa koreksi sehat. Selama tahun berjalan, IHSG sudah tumbuh 11,45%
dengan price to earning ratio (PER) rata-rata 14,3 kali yang masih tergolong rendah.

 

Optimisme terhadap prospek perekonomian di dalam
negeri juga sangat wajar. Pertumbuhan ekonomi nasional telah direvisi menjadi
5,2% dalam APBN-P 2017 dibanding 5,1% dalam APBN. Bahkan, dalam RAPBN 2018,
pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%.

 

Tak kalah penting, APBN kini semakin terkelola
dengan baik (manageable).
Karena itu pula, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s
(S&P) pada Mei lalu memberikan peringkat layak investasi (investment grade)
untuk utang pemerintah, mengikuti jejak lembagalembaga pemeringkat
internasional lainnya.

 

Kita berharap mobilisasi dana dari pasar modal
domestik terus meningkat. Besarnya dana yang dijaring dari pasar modal dalam
negeri bakal menentukan ‘bobot’ pasar modal itu sendiri. Semakin besar dana
yang digalang, akan semakin tinggi citra dan gengsi pasar modal di dalam
negeri.

 

Begitu pula sebaliknya. Harus diakui, kontribusi
dana pasar modal terhadap produk domestik bruto (PDB) masih minim. Dengan asumsi
tahun ini penggalangan dana dari pasar modal mencapai Rp 200 triliun, berarti
rasio dana pasar modal tak sampai 2% terhadap PDB nasional senilai Rp 12.406
triliun.

 

Paling penting, besarnya dana yang digalang pasar
modal bakal turut menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Semakin banyak perusahaan yang menggelar IPO saham, menerbitkan obligasi, dan melangsungkan
rights issue,
semakin besar pula sumbangsih pasar modal dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi
nasional Setiap tahun, ribuan triliun rupiah digelontorkan perusahaan yang sahamnya
tercatat di bursa (listed
company),
baik berupa belanja modal (capital expenditure/capex) untuk ekspansi bisnis, maupun dalam bentuk belanja
operasional (operating
expenditure/opex)
untuk menjaga kesinambungan perusahaan.

 

Saat ini terdapat 555 perusahaan tercatat (listed company)
di bursa saham domestik. Kian besar capex
dan opex
dikucurkan listed
company
, kian besar peluangnya dalam membuka lapangan kerja,
meningkatkan penerimaan pajak, dan menghasilkan intermediasi ekonomi bagi
sektor riil.

 

Selain turut menggairahkan sektor riil, mobilisasi dana
di pasar modal berdampak langsung terhadap distribusi pendapatan masyarakat di
Tanah Air melalui nilai tambah portofolio saham, obligasi, reksa dana, dan
produk-produk derivatifnya. Saat ini terdapat sekitar satu juta investor di
pasar modal dalam negeri.

 

Atas dasar itulah kita mendorong otoritas bursa
saham (BEI), otoritas pasar modal (Otoritas Jasa Keuangan/ OJK), dan pemerintah
secara keseluruhan menjaring lebih banyak listed
company
atau penerbitan obligasi korporasi. Dengan
memperbanyak listed company,
pemerintah sejatinya bukan hanya mendorong mediasi dan pertumbuhan ekonomi,
tapi juga memperkuat fundamental ekonomi nasional. Tak bisa dimungkiri, listed company
punya peluang lebih besar untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan menghasilkan
keuntungan karena mereka wajib menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate
governance/GCG).

 

Bila ditopang perusahaan-perusahaan mapan, perekonomian
nasional akan tumbuh lebih pesat dan inklusif. Ekonomi bakal benar-benar tumbuh
berkualitas, bukan sekadar bertumbuh, bukan pula pertumbuhan semu, rawan kesenjangan,
dan hanya dinikmati segelintir orang.  (*)

Kirim Komentar Anda

Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Source link