INILAHCOM, Jakarta – Menteri Keuangan, Chatib Basri, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS efek dari regional dan efek dari neraca perdagangan.

Menkeu melihat pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp11.600 hanya bersifat sementara. Dirinya juga melihat gerakan rupiah saat ini mengalami penguatan tipis. Sebab fundamental ekonomi tidak ada masalah. Hari ini, pada kurs tengah US$ -rupiah di Bank Indonesia berada di level Rp11.608 per dolar AS.

“(Pelemahan rupiah) efek dari trading, lebih karena temporer saya melihatnya sih, fluktuasinya masih menguat sedikit. Karena fundamentalnya saya nggak lihat ada masalah,” ucap Chatib di kantornya, Kamis (24/4/2014).

Dirinya juga mengatakan walaupun dari secara fundamental, perekonomian Indonesia tidak ada masalah. Namun secara regional pelemahan rupiah berasal dari dampak nilai mata uang negara lain yang mengalami pelemahan.

“Jadi dari segi fundamental mestinya nggak ada. Tapi memang regional-nya melemah, Rupee saya lihat melemah, kemudian Ringgit juga (melemah), terus Rupiahnya juga, dan kemudian kebutuhan-kebutuhan untuk trading agak naik,” ujarnya.

Chatib juga memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan surplus sekitar US$ 200 juta hingga US$ 500 juta. Hal itu dikarenakan ekspor Indonesia yang membaik dan impor yang masih bisa dijaga oleh pemerintah.

“Perkiraannya US$ 200 juta – US$ 500 juta. Karena ekspornya membaik, impornya bisa dijaga, inflasinya dugaan saya rendah, bisa ada deflasi,” tuturnya.

Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi terpantau melemah sebesar 22 poin menjadi Rp11.649 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.627 per dolar AS.


Inilah.com – Pasarmodal