Liputan6.com, London : Pada 2001, dunia mulai melirik negara-negara anggota BRIC antara lain, Brasil, Rusia, India dan China sebagai penggerak ekonomi global yang sangat potensial.

Istilah BRIC tersebut diberikan ekonom senior ternama Jim O’Neill yang saat ini justru melirik kelompok baru sebagai raksasa negara berkembang di masa depan yaitu, MINT.

Seperti dikutip dari BBC, Senin (6/1/2014), MINT merupakan singkatan dari Meksiko, Indonesia, Nigeria dan Turki. Di masa depan, kombinasi kekuatan empat negara tersebut dapat mematahkan BRIC dan menembus 10 besar daftar perekonomian negara terbesar di dunia.

BRIC dikenal sebagai negara dengan jumlah populasi penduduk yang besar, kelompok tersebut memiliki kawasan demografis yang sangat baik guna menunjang pertumbuhan ekonominya. Terdapat juga potensi peningkatan kemampuan dan keahlian tenaga kerja yang besar di empat negara tersebut. Dibandingkan dengan BRIC, MINT memiliki beberapa keunggulan yang lebih besar, baik dari segi geografis, ekonomi, maupun politik.

Menteri Luar Negeri Meksiko, Jose Antonio Meade Kuribrena menegaskan, negaranya memiliki semua posisi geografis yang dapat bermanfaat sebagai pengatur pola perubahan sistem perdagangan dunia. Meksiko merupakan pintu utama lain untuk masuk ke pasar Amerika Serikat (AS) dan tidak terbatas pada Amerika Latin saja.

Sementara Indonesia berperan sebagai jantung Asia Tenggara dan juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan China. Sebagaimana telah diketahui banyak pihak, Turki merupakan negara yang masuk ke kawasan Barat dan Timur.

Terakhir, Nigeria akan terus berkembang jika negara-negara di Afrika berhenti saling bersaing dan bekerja sama mendorong perdagangannya.

Penyatuan empat negara berkembang ini juga diprediksi dapat memberikan dorongan lebih besar bagi Nigeria untuk menjadi anggota G20 seperti yang telah dilakukan tiga negara lainnya.

Sementara secara ekonomi, Meksiko, Indonesia dan Nigeria berperan sebagai produsen berbagai komoditas dan hanya Turki yang tidak memiliki peranan serupa. Berbeda dengan BRIC, hanya Brasil dan Rusia yang berperan sebagai produsen komoditas sementara dua di antaranya tidak termasuk.

Bicara soal kekayaan sumber daya, Meksiko dan Turki berada di level yang sama dengan penghasilan sekitar US$ 10 ribu per kapita.
Sementara di Indonesia sebesar US$ 3.500 dan US$ 1.500 di Nigeria yang setara dengan India. Memang, jumlahnya jauh di bawah Rusia yang pendapatan per kapitanya bernilai US$ 14 ribu dan Brasil US$ 11.300.

Keunggulan lain ditunjukan MINT berdasarkan daya tarik investasinya bagi para investor. Negara-negara MINT dianggap dapat memikat lebih banyak investor dibandingkan BRIC. Selain itu, melakukan perjalanan bisnis ke Nigeria dan Turki ternyata tidak sesulit apa yang sering dibicarakan orang lain.

Perkembangan travel di Turki sangat pesat dan membuatnya menjadi negara dengan pertumbuhan maskapai terbesar di dunia. Sayangnya, O’Neill menilai, Indonesia sebagai negara yang penuh tantangan dan perlu segera diatasi. Indonesia juga dituntut untuk segera membuktikan perkembangan infrastrukturnya.

Berbicara soal kreativitas berbisnis, Gubernur Bank Sentral Nigeria Lamido Sanusi telah membuktikannya dengan memerangi aksi korupsi yang terjadi. Baginya korupsi dapat menahan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Maka untuk meningkatkannya, pemerintah harus lebih memperhatikan pendidikan dan transparansi pada rakyat.

Sementara itu, berbagai kebijakan energi yang dirilis Meksiko dan Nigeria menunjukkan adalanya inisiatif besar dari kedua negara MINT itu, Artinya, jika diterapkan, jumlah produksinya dapat tumbuh secara signifikan.

Di Nigeria, hampir semua pebisnis menunjukkan kekuatannya untuk memajukan negara. Sementara itu, dia menilai berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia bisa jadi menguntungkan dan berubah menjadi peluang.

Jadi, dalam 30 tahun ke depan, O’Neill sangat yakin MINT dapat menggeser BRIC dan menembus daftar 10 negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. (Sis/Ahm)