Pekerja aktivitas bongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (9/6/2016)
© Muhammad Adimaja /ANTARAFOTO

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2016 tercatat surplus sebesar USD375,6 juta. Pencapaian itu ditopang oleh nilai ekspor sebesar USD11 miliar atau naik 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dan nilai impor naik 3 persen menjadi USD11,1 miliar.

“Surplus di luar dugaan karena bulan-bulan ini biasanya defisit,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo, saat ditemui okezone.com di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Menurut Sasmito, surplus neraca perdagangan ini didorong oleh peningkatan nilai ekspor batu bara sepanjang bulan Mei. Selain itu, hal ini juga didukung oleh kenaikan ekspor minyak mentah yang mencapai 30,22 persen.

Akan tetapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, nilai eskpor Indonesia tercatat turun 9,6 persen. Adapun nilai ekspor periode Januari-Mei 2016 mencapai USD56,6 miliar atau anjlok 12,8 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Begitu pula dengan nilai impor yang lebih rendah 4,1 persen daripada Mei 2015 dan impor Januari – Mei 2016 melorot 11,6 persen dibanding periode yang sama di 2016.

Dilansir dari Kompas.com, sektor minyak dan gas mengalami penurunan nilai ekspor tertinggi hingga mencapai 37,91 persen dari USD64,91 miliar menjadi USD56,59 miliar. Sektor yang mengalami penurunan terbesar kedua adalah sektor tambang sebesar 26,9 persen dari USD8,68 miliar menjadi USD635 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui, neraca dagang saat ini tidak terlalu bagus meskipun mampu mencetak surplus. Sebab, surplus neraca dagang itu dicatatkan lantaran angka ekspor dan impornya turun.

Hal itu menandakan sektor industri masih belum bergerak. Kondisi ekonomi dunia yang terus melambat menyebabkan permintaan menurun. Ujung-ujungnya, ekspor Indonesia ikut turun.

Meski begitu, Darmin melihat tren kenaikan impor pada Mei lalu menunjukkan ekonomi di dalam negeri mulai bergerak. Antara lain, melalui pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kondisi itu tetap harus diwaspdai dengan berupaya menggenjot ekspor.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Thomas Lembong menyatakan, labilnya neraca dagang saat ini karena perekonomian Indonesia masih dalam masa transisi. “Jadi tiga langkah ke depan, dua langkah ke belakang. Tidak satu garis lurus langsung membaik,” katanya. Apalagi, kondisi ekonomi dunia saat ini masih diliputi ketidakpastian.

Senada dengan Darmin, Lembong juga menilai kenaikan impor pada Mei lalu merupakan sinyal positif. Hal itu bisa menandakan ekonomi mulai menguat sejalan dengan kenaikan impor bahan baku. “Tapi saya masih sangat waspada, mudah-mudahan kontraksi ekspor tahun ini tidak separah tahun lalu,” katanya.

BPS pun memperkirakan Indonesia akan kembali mengalami surplus pada Juli mendatang. Hanya saja, hal ini tergantung pada harga komoditas global sepanjang bulan Ramadan.

Thailand jadi ancaman

Dari laporan neraca perdagangan itu, BPS juga menyebut perdagangan Indonesia dengan Thailand selalu tekor. Mei ini, neraca perdagangan Indonesia terhadap Thailand kembali mengalami defisit sebesar USD336 juta.

Sepanjang Januari-Mei defisit perdagangan RI Thailand mencapai USD1,95 miliar. Hal ini menjadikan Thailand sebagai ancaman Indonesia di perdagangan Asia Tenggara.

Thailand masuk dalam tiga negara besar pemasok barang ke Indonesia, setelah Tiongkok dan Jepang. Impor dari Negeri Gajah Putih ini ke Indonesia mencapai USD3,77 miliar di bulan kelima dengan pangsa pasar 8,03 persen. Nilai ini naik 10,65 persen dibanding periode sebelumnya.

Dari data BPS menunjukkan, impor Indonesia dari Thailand pada periode Mei ini mencapai USD719,9 juta, sementara ekspor Indonesia ke Thailand hanya separuhnya senilai USD383,9 juta sehingga terjadi defisit neraca dagang Indonesia sebesar USD336 juta.

Sementara sepanjang lima bulan 2016, ekspor Indonesia ke Thailand tercatat USD1,82 miliar atau jauh dari total nilai impor Indonesia dari negara tersebut yang mencapai USD3,77 miliar sehingga Indonesia masih membukukan defisit USD1,95 miliar.



Source link