JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) hari ini mencatatkan Obligasi I yang merupakan obligasi perdana KAI di pasar modal senilai Rp2 triliun. Pada proses book building, obligasi I KAI mendapatkan respons yang sangat baik dari masyarakat dengan mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe sebanyak 2,5 kali atau secara total Rp5,2 triliun. 

Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo menjelaskan, Obligasi I KAI ini dibagi menjadi dua seri di mana Seri A berjangka waktu 5 tahun dengan tingkat kupon obligasi 7,75% per tahun. Sedangkan Seri B berjangka waktu 7 tahun dengan tingkat kupon obligasi 8,25% per tahun. Didiek mengatakan bahwa penerbitan obligasi ini merupakan upaya perseroan untuk menguatkan struktur permodalan. 

“Di tengah padatnya penugasan dan besarnya skala proyek yang sedang dikerjakan atau akan dikerjakan oleh KAI,  tentu membutuhkan modal besar untuk mendanai proyek. Sehingga, optimasi permodalan sangat dibutuhkan,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (22/11/2017). 

Baca Juga: China-Laos Akan Terhubung Kereta Api di 2021

Dana hasil penerbitan obligasi ini nantinya, lanjut Didiek, sebesar 55% akan digunakan untuk penyelesaian proyek KA Bandara Soetta, sedangkan sisanya sebanyak 45% akan digunakan untuk pengadaan kereta. 

“Tujuannya untuk meningkatkan pelayanan level angkutan penumpang, dan untuk mempertahankan serta meningkatkan pangsa pasar angkutan penumpang,” kata dia. 

Obligasi I KAI telah mendapatkan peringkat idAAA atau Triple A dengan outlook stable dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Dalam penerbitan obligasi I ini KAI telah menunjuk joint lead underwriter (JLU) di antaranya PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas dan PT BCA Sekuritas. 

Baca Juga: Teliti, Kemenhub Bakal Rekrut Konsultan Kaji Prastudi Kereta Api Jakarta-Surabaya

Selama lima tahun terakhir dari tahun 2012 hingga tahun 2016, KAI mencatatkan pertumbuhan pendapatan dengan CAGR sebesar 20,04% dan rata-rata pertumbuhan laba bersih dengan CAGR sebesar 24,41% . Di samping itu, berdasarkan laporan posisi keuangan, KAI mengalami peningkatan jumlah aset dengan CAGR sebesar 29,41% serta diiringi pertumbuhan ekuitas dengan CAGR sebesar 16,22% . 

Pada posisi triwulan III Tahun 2017, total aset KAI mencapai Rp28 triliun dan KAI mampu mencatatkan pertumbuhan total aset sebesar 11,37%, pertumbuhan total liabilitas sebesar 11,13% dan pertumbuhan total ekuitas sebesar 11,75%. Jika dibandingkan dengan periode 30 September 2016, KAI mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,55% dan pertumbuhan laba bersih hingga 47,32%. 

Beberapa proyek yang saat ini sedang ditangani oleh KAI di antaranya pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta melalui Perpres No. 83 Tahun 2011, dengan target pengoperasian di awal Tahun 2018. Selain itu KAI juga mendapatkan penugasan dari Pemerintah melalui Perpres No. 49/2017 tentang percepatan penyelenggaraan Kereta Api Ringan atau Light Rail Transit (LRT) terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi. KAI juga diberikan penugasan melalui Perpres 55/2016 untuk mengoperasikan LRT (Light Rail Transit) di Provinsi Sumatera Selatan.

(kmj)



Source link