NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim likuiditas perbankan masih terjaga untuk memenuhi target ekspansi penyaluran kredit, meskipun terjadi pepindahan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari bank ke pasar modal. Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Imansyah menyebutkan likuiditas perbankan masih terjaga karena kelebihan dana yang sudah terjadi sejak awal 2017.

Bahkan, akhir Oktober 2017, rasio pinjaman terhadap pendanaan (Loan to Deposit Ratio/LDR) perbankan masih 88 persen, dari ketentuan LDR Bank Indonesia yang sebesar 78-92 persen. “Kami tidak melihat akan terjadi pengetatan likuiditas gara-gara banyak DPK yang pindah ke pendanaan di pasar modal. Likuiditas masih ‘ample’ (memadai), terlihat dari LDR yang sebesar 88 persen,” ujarnya.

Oleh karena itu, Imansyah meyakini, perbankan masih bisa menggenjot penyaluran kredit di dua bulan terakhir 2017. Dia menilai pertumbuhan kredit perbankan bisa mencapai sembilan persen (year on year/yoy) sepanjang 2017 atau lebih tinggi dari 2016 yang sebesar 7,8 persen (yoy). Hingga akhir Oktober 2017, Imansyah mengakui memang terdapat indikasi perpindahan pendanaan dari perbankan ke pasar modal. Hal itu terlihat dari pendanaan di pasar modal yang naik 20 persen selama September 2017 hingga OKtober 2017 atau menjadi Rp197 triliun dari Rp163 triliun.

Sementara di periode sama, pertumbuhan tahunan Dana Pihak Ketiga Bank justeru menurun. Di Oktober 2017, pertumbuhan DPK Bank sebesar 10,9 persen (yoy) atau sebesar Rp326 triliun, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan September 2017 yang sebesar 11,69 persen atau sebesar Rp306 triliun. “Memang ada ‘shifting’ (perpindahan), tapi tidak menimbulkan pengetatan di sektor lain,” ujar dia. Imansyah menilai perpindahan DPK itu karena suku bunga bank menurun sehinggga imbal hasil di pasar modal lebih menarik.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan likuiditas perbankan akan tetap longgar sampai akhir tahun. Indikator likuiditas, yakni rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) diprediksi akan berada di bawah 90 persen pada akhir 2017. Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W Martowardojo, menjelaskan tingginya likuiditas ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang pada akhir tahun akan lebih rendah dibandingkan dana pihak ketiga (DPK). Pada akhir 2017, pertumbuhan DPK akan berada di angka 10 persen, sementara kredit di angka 8 persen.

“Likuiditas perbankan pada akhir 2017 ini diperkirakan lebih longgar dibandingkan akhir 2015 dan 2016,” ungkap dia. Longgarnya likuiditas perbankan juga terjadi karena korporasi juga mencoba alternatif lain sebagai pendanaan. Agus menjelaskan, pendanaan dari pasar modal melalui penawaran saham perdana (initial public offering/IPO), obligasi dan medium term notes (MTN) cukup diminati oleh korporasi.

Tercatat pada Januari – Oktober 2017, pendanaan dari opsi-opsi tersebut sudah mencapai Rp256 triliun dengan Rp180 triliun diantaranya berasal dari obligasi dan IPO. Dengan banyaknya likuiditas perbankan, BI berharap bisa menjadi sarana untuk bisa menyalurkan kredit. BI pun sudah mengeluarkan kebijakan makro prudensial, yakni counter cyclical buffer (CCB) 0 persen agar kredit lebih ekspansif.

Hingga September 2017, Agus mengungkapkan, pertumbuhan kredit memang menunjukkan perlambatan, yakni mencapai 7,9 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,3 persen (yoy). “Secara year to date kami amati, kredit bertumbuh sekitar 8 persen,” ungkap dia.

Rendahnya pertumbuhan kredit tersebut karena permintaan kredit masih melemah. Ditambah pula korporasi dan bank masih melakukan konsolidasi. Dari sisi korporasi, para pelaku sedang menunggu neraca keuangan benar-benar sehat sebelum bisa mengajukan permintaan. “Mereka juga mengkaji perekonomian dunia dan perkembangan harga komoditas sebelum ekspansi,” ungkap Agus.



Source link