SOSIALISASI: Seorang peserta donor darah melakukan konsultasi pasar modal sebelum mendonorkan darahnya di acara donor darah yang digelar Ikatan Pialang Efek Indonesia Komisariat Solo di kantor Bursa Efek Indonesia cabang Solo di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (20/8). (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOSIALISASI: Seorang peserta donor darah melakukan konsultasi pasar modal sebelum mendonorkan darahnya di acara donor darah yang digelar Ikatan Pialang Efek Indonesia Komisariat Solo di kantor Bursa Efek Indonesia cabang Solo di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (20/8). (suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

SOLO, suaramerdeka.com – Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) Komisariat Solo membagi gratis saham satu lembar kepada para peserta donor darah di car free day (CFD) di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) cabang Solo di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (20/8).

Ada pun besaran nilhai dan saham dari perusahaan apa diserahkan masing-masing perusahaan skuritas yang berpartisipasi dalam acara donor darah yang digelar dalam rangka ulang tahun bursa efek ke 40. Untuk mensukseskan acara pihak IPEI bekerja sama dengan sembilan perusahaan skuritas. Selain donor darah, juga digelar konsultasi skuritas gratis dan hiburan musik “live” bagi warga yang melintas di CFD.

“Pendonor darah itu kan salah satu ukuran orang cerdas selain rasa manusiawinya tinggi. Karena itu, sosialisasi tentang bursa efek atau pasar modal bagi para pendonor ini diharapkan bisa mengena,” kata ketua IPEI Komisariat Solo Edwin Jayandaru di sela-sela donor darah.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) cabang Yogyakarta Irfan Noor Riza mengaku mendukung penuh sosialisasi dan kampanye tentang pasar modal bagi masyarakat umum di CFD dalam rangka ulang tahun pasar modal ke 40.

Menurut dia, gencarnya kampanye dan sosialisasi pasar modal yang sering dilakukan asosiasi, perusahaan skuritas, dan perguruan tinggi selama ini terbukti meningkatkan jumlah investor pasar modal dan nilai traksaksi.

“Meski jumlah investor pasar modal di Solo yang hanya sekitar 19 ribu orang masih kalah dengan Yogyakarta sekitar 26 ribu orang, namun nilai transaksi masih besar di Solo. Di Solo rata-rata nilai transaksi sekitar Rp 1,9 triliun per bulan sementara di Yogyakarta hanya Rp masih dibawah Rp 500 miliar,” katanya.

Dukungan serupa datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut wakil kepala OJK Solo Tito Adji Siswantoro mengatakan, kampanye dan sosialisasi pasar modal yang sering dilakukan pihak-pihak berkepentingan akan meningkatkan literasi dan inklusi masyarakat terhadap pasar modal yang selama ini dinilai masih sangat minim.

Berdasarkan survei terakhir, tingkat literasi pasar modal hanya 4,4 persen, sedang tingkat inklusi hanya 1,25 persen. Jika dibandingkan tingkat literasi dan inklusi keuangan masih sangat jauh. Literasi keuangan mencapai 29,9 persen sedang inklusi keuangan 63,63 persen.

(Langgeng Widodo/CN39/SM Network)



Source link