[ad_1]

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa skema baru transaksi margin yang diusulkan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal meningkatkan likuiditas pasar. Karena itu, OJK mengapresiasi positif usulan tersebut.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK Sardjito mengatakan, pada prinsipnya, otoritas memandang positif usulan tersebut dan segera melakukan pembahasan. “Intinya kami mendukung usulan yang dapat meningkatkan likuiditas di pasar modal,” kata dia di Jakarta, Selasa (7/6).

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa salah satu hal yang masuk dalam pertimbangan pembahasan mengenai transaksi margin adalah besaran modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) perusahaan sekuritas atau anggota bursa (AB). “OJK akan mempertimbangkan modal disetor akan ditingkatkan, dan MKBD-nya. Sebelum OJK mengeluarkan peraturan yang lebih pasti, kami akan melakukan pembahasan yang lebih intensif,” ujar Sardjito.

Sebelumnya, BEI mengusulkan kepada OJK untuk membagi perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa menjadi dua kelompok berdasarkan besaran MKBD. Kelompok pertama adalah AB dengan MKBD di atas Rp 250 miliar. Kelompok itu diperbolehkan bertransaksi margin dengan cakupan atau daftar jumlah saham yang lebih banyak dari yang ditentukan BEI.

Sementara kelompok kedua yakni AB dengan MKBD di bawah Rp 250 miliar. Mereka hanya diperbolehkan melakukan transaksi margin sesuai dengan daftar yang telah ditentukan BEI. Per Juni 2016, daftar efek yang dapat ditransaksikan secara margin sebanyak 55 saham. Dari daftar efek margin tersebut, mayoritas merupakan saham-saham berkapitalisasi besar dan masuk dalam kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hassyarbaini mengungkapkan bahwa daftar efek margin akan diperbarui setiap bulan oleh BEI. Jika dalam perjalanan terdapat informasi material terkait dengan suatu efek margin, yang mempengaruhi integritas dan atau likuiditas pasar, bursa akan melakukan review dan selanjutnya dapat menetapkan untuk tidak dicantumkan atau dikeluarkan dari daftar efek margin. “Di-review setiap bulan,” ujarnya.

Selain itu, OJK dan beberapa lembaga lain juga bakal mendorong pelonggaran peraturan produk reksa dana berbasis sukuk. Otoritas menilai masih terdapat hambatan dalam peraturan yang membuat manajer investasi enggan menerbitkan produk tersebut.

Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi mengungkapkan, saat ini, baru ada satu perusahaan manajer investasi yang sedang menjalani proses pembuatan produk tersebut dari sekian banyak yang berminat. Peraturan saat ini masih menghambat manajer investasi yang memiliki sedikit dana. “Kendalanya ketentuan minimal membeli Rp 250 miliar dari issuer untuk produk reksa dana yang ingin membeli sukuk di pasar perdana,” jelas dia.

Dia melanjutkan, tidak banyak manajer investasi yang mampu mengeluarkan dana sebanyak itu sekaligus. Hanya manajer investasi berkelas global yang bisa melakukan hal itu.

OJK berkoordinasi dengan beberapa lembaga lain akan membuat rumus relaksasi yang akan memudahkan manajer investasi. Nantinya, relaksasi bisa diberikan dalam bentuk penurunan nilai pembelian sukuk atau pemberian waktu bagi manajer investasi untuk membuat produk dan melakukan book building. “Melalui reksa dana masyarakat bisa memiliki sukuk dengan dana Rp 500 ribu atau Rp 1 juta saja,” ujar Fadilah.


Investor Daily

Muhammad Rausyan Fikry/MHD

Investor Daily

[ad_2]

Source link