[ad_1]



JAKARTA – Pergantian tahun sudah di ambang pintu, dan di akhir tahun begini biasanya para pemodal tengah mengkalkulasi peluang dan tantangan dalam melakukan investasi portofolio yang akan dihadapi sepanjang tahun depan.

Bagi pemodal di pasar modal, perhitungan terkait asumsi pertumbuhan indikator ekonomi makro domestik tentu menjadi faktor utama yang dianalisa. Hal ini penting karena sangat memengaruhi kinerja fundamental emiten.

Selanjutnya situasi terkait kondisi global dan regional tidak kalah penting dicermati, karena sentimennya cukup sensitif memengaruhi pergerakan harga saham di bursa domestik.

Selain fundamental ekonomi dan dampak eksternal tadi, khusus di tahun 2018 pemodal tampaknya juga menghitung faktor politik. Wajar, sebab iklim politik Indonesia di tahun 2018 diyakini bakal makin panas karena siklus pemilihan umum 2019 kian dekat.

Selain itu, akan digelar 171 pemilihan kepala daerah secara serentak di 2018, termasuk di daerah-daerah yang selama ini jadi mesin perekonomian Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali.

Para pemodal tentu akan menghitung potensi risiko investasi yang akan dihadapi di tahun politik 2018. Karena betapa intrik politik kemungkinan bertebaran yang dikhawatirkan berdampak pada stabilitas sosial dan keamanan dan pada akhirnya mengusik gerak roda perekonomian nasional.

Memahami keresahan tadi, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Tito Karnavian menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjamin keamanan nasional saat kontestasi Pilkada hingga Pemilu 2019. Karena itu dia yakin stabilitas perekonomian dapat berjalan kondusif sehingga membuat nyaman pemodal dalam berinvestasi.

“Dinamika pasti ada jelang pemilu, dinamika pilkada juga ada, tapi kita sudah berpengalaman menghadapi dinamika politik berkali-kali, bukan sekali. Pemilu Presiden bukan sekali, gejolak-gejolak Insya Allah bisa kita tangani dengan baik,” kata Tito di Gedung BEI beberapa waktu lalu.

Selain polisi, Tito percaya Tentara Nasional Indonesia juga punya komitmen yang sama. Sehingga kedua pihak bisa saling bersinergi menjaga keamanan negara. “ Bila demikian, perekonomian pun bisa ikut terjaga dengan stabil. Jadi selagi Polri dan TNI kompak dan solid, 2018 Insya Allah saya jamin aman, dinamika itu biasa, polarisasi ini juga biasa,” jelasnya.

Keyakinan senada diungkapkan Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Menurutnya pelaku pasar tak perlu khawatir sebab berkaca pada tiga pemilu sebelumnya tahun 2004, 2009 dan 2014 lalu, pasar nyaris tidak mengalami gejolak. “Apalagi Kapolri sudah menjamin selama TNI dan Polisi kompak, ekonomi membaik,” ujarnya.

Berdasarkan data, panasnya suhu politik pada pelaksanaan pemilu pada tahun 2014 terbukti tak menyurutkan optimisme pelaku pasar modal berinvestasi. Sebaliknya IHSG malah mengalami rally panjang sebelum hingga setelah Pemilu.

Hal ini dibuktikan dengan pergerakan IHSG yang mengalami kenaikan 21,15% yaitu dari 4.274,177 pada akhir 2013 menjadi 5.178,373 pada 29 Desember 2014. Pertumbuhan IHSG tadi bahkan membawa BEI menjadi bursa dengan capaian return tertinggi keempat dunia dibandingkan dengan bursa-bursa utama di kawasan regional dan dunia.

Kondisi serupa terjadi pada pemilu 2009 ketika IHSG di akhir tahun malah melesat hingga 76,32% atau ditutup pada level 2.534,35 dari posisi penutupan tahun 2008 di level 1.355,40. Sementara pada Pemilu tahun 2004, IHSG pada tutup tahun tercatat naik hingga 44,56% dari posisi penutupan pasar di akhir 2003 di level 704,49 menjadi 1.000,23 di penghujung 2004.

Nah berkaca pada capaian tadi, kontestasi politik yang menjadi siklus lima tahunan seharusnya bukan menjadi penghalang pemodal untuk berinvestasi. Sebaliknya berpotensi menciptakan peluang bagi pertumbuhan investasi.

Meski begitu, khusus untuk tahun 2018 nanti Dirut BEI mengingatkan adanya potensi risiko likuiditas yang mengancam terkait biaya pilkada serentak pada 171 daerah yang ditaksir mencapai Rp45 triliun, apalagi momentumnya bersamaan dengan pembayaran pajak sehingga berpotensi terjadi penarikan dana besar di perbankan.

“Mungkin yang harus diantisipasi, ditariknya dana dari perbankan.” imbuhnya. Namun faktor ini menurutnya bukan sesuatu yang ditakutkan karena dampaknya tidak terlalu signifikan bagi pasar, apalagi Pilkada serentak juga sudah beberapa kali digelar. (Tim BEI)

[ad_2]

Source link