Keuangan Syariah Indonesia

Ilustrasi. FOTO: BISNISKINI/AKBAR

SURABAYA-BISNISKINI: Terkait rencana kerja sama antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Dubai Financial Market (DFM) merupakan langkah tepat dan positif jika benar-benar terealisasi. Hal ini dikemukakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi.

Menurutnya, sudah saatnya bagi Indonesia untuk mengembangkan lembaga keuangan syariah seperti perbankan, koperasi pesantren, dan lainya. Karena memang potensi pendapatan terkait perputaran dananya tak bisa dipandang remeh, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, keuangan syariah memiliki potensi luar biasa yang harus digarap oleh pemerintah, munculnya kabar akan dibukanya pasar modal syariah tentu menjadi salah satu alternatif jawaban untuk mengelola potensi keuangan berbasis prinsip syariah.

“Kita juga perlu menggairahkan instrument keuangan lainya seperti pendalaman pasar modal syariah bagi para pelaku pasar,” singkatnya saat di temui dalam kesempatan gelaran ISEF 2017 di Balroom Grand City Mall Surabaya, Rabu (8/11/2017).

Perempuan berdarah Sunda ini berpendapat, jika kerjasama tersebut benar-benar dapat terwujud. Tentu ini adalah langkah strategis bagi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Ditemui di waktu yang hampir bersamaan, Kepala Departemen Pengembangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Soekro juga menuturkan hal serupa. Ia mengatakan, sebetulnya pasar keuangan syariah kita saat ini masih membutuhkan rangsangan pada wilayah Customer Based dan kuantitas Demand. Sehingga perlu adanya langkah-langkah strategis yang selanjutnya menggarap potensi ekonomi maupun keuangan syariah secara terintegrasi pada seluruh sektor.

“Potensi keuangan syariah nasional terletak pada sektor religius dan sektor sosial, jadi besar kemungkinan jalinan integrasi sektoral dapat terhubung, dan tidak terpaku pada sektor riil basis syariah,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, potensi yang terdapat pada sektor religius bisa mencapai Rp 2000 Triliun, angka ini didapat dari potensi wakaf saja. Sedangkan potensi lainya seperti Zakat, Infaq, dan Sedekah sebesar Rp. 280 Triliun.

“Angka-angka tersebut tentu akan semakin bertambah setiap tahunnya, mengingat umat muslim di Indonesia termasuk middle economy class dan ditambah saat ini meskipun tidak terlalu signifikan tapi ekonomi syariah terus tumbuh. Hal ini adalah potensi yang sangat besar jika memang terwujudnya pasar modal syariah atau bursa efek syariah,” jabarnya.(POUNDRA/ZAL)



Source link