ilustrasi Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia

ilustrasi Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Friderica Widyasari Dewi (kiri) berjabat tangan dengan Direktur Utama PT Indo Premier Investment Management (IPIM) John D Item. (FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A)

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus mengembangkan pasar modal syariah di dalam negeri menyusul minat investasi masyarakat di daerah cukup tinggi.

“Masyarakat di daerah cukup positif menyambut investasi dalam bentuk syariah, kondisi itu akan membuat jumlah investor di dalam negeri akan bertambah,” ujar Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia, Friderica Widyasari Dewi dalam peluncuran “online trading” Panin Sekuritas berbasis syariah di Jakarta, Selasa.

Ia mengakui, perkembangan ekonomi syariah di industri perbankan cukup cepat pertumbuhannya, hal itu membuat pihak pasar modal juga terus berusaha meningkatkan industri syariah di pasar modal.

“Saat ini memang perbankan yang tumbuh cepat, pasar modal tengah berjalan,” kata dia. Ia menyatakan, saham yang masuk kriteria syariah sebanyak 299 saham, atau sekitar 60 persen dari total emiten yang ada saat ini sebanyak 458 emiten.

“Geliat pertumbuhan syariah di pasar modal semakin nyata, ditambah sistem “online trading” syariah juga telah tersedia,” ujar dia. Saat ini, ia menilai, ekonomi syariah di dalam negeri sudah menjadi salah satu fokus dalam mendorong perekonomian Indonesia.

“Pengembangan ekonomi syariah saat ini sudah menjadi fokus, pada 2023 mendatang Indonesia bisa menjadi papan atas dalam ekonomi syariahnya,” ucapnya. Ketua Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional, Ma`ruf Amin menambahkan, sistem perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sudah sesuai dengan koridor syariah.

Hal itu, lanjut dia, seiring dengan telah dikeluarkannya Fatwa MUI Nomor 80 tahun 2011, diatur mekanisme perdagangan saham yang mengatur berbagai aturan sesuai pasar modal syariah. |Ant|