Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kiri) bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Direktur Utama BEI Tito Sulistio (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (kedua kanan) berfoto di depan patung Banteng Wulung saat berlangsungya peringatan 40 tahun pasar modal di Jakarta, Minggu (13 – 8). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikan patung Banteng Wulung sebagai simbol lembaga pasar modal dalam kegiatan \”Stock Code Fun Walk\&q

Bisnis.com, JAKARTA–Cerita rakyat dari Kerajaan Pasundan kini dipakai Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai icon yang dipercaya menggairahkan pasar modal Indonesia.

Banteng Wulung. Hitam. Gesit. Lari sangat kencang. Kala itu, Kerajaan Pansundan meyakini setiap yang dijaga dan diawasi oleh banteng ini akan memberikan aura positif sekaligus kesejahteraan pada hal yang dijaga oleh Banteng Wulung.

Banteng bukan sembarang banteng. Banteng Wulung dalam cerita rakyat itu kini hadir di gedung paling depan Bursa Efek Indonesia (BEI), menghadap Jalan Jenderal Sudirman. Ukiran guratan dan otot terlihat tegas pada fosil kayu berusia 2,5 juta tahun–5 juta tahun ini.

Tak hanya bagi cerita rakyat di Indonesia. Untuk skala internasional, banteng juga adalah konotasi positif.

Asal tahu saja, benteng (bull) adalah kata yang membuat investor pasar modal riang. Masih ingat dengan matador berkain merah yang diseruduk banteng yang disiarkan dalam layar kaca? Teknik banteng dalam menyerang musuh adalah dengan tanduk. Bila musuh terjatuh, banteng akan mengejar dan mengangkat pakai tanduknya berulang-ulang.

Dalam pasar modal internasional, banteng (bull-bullish atau dalam keadaan naik) menjadi harapan bagi investor saham. Istilah lain yang sering digunakan selain bullish adalah hijau.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengungkapkan pasar modal tiap negara menggunakan bahan yang berbeda dalam membuat banteng. Dia menggungkapkan, ada negara membuat banteng dari perunggu, semen, baja dan batu.

“Kisah Banteng Wulung berwarna hitam ini diyakini membawa kesejahteraan bagi yang dijaganya,” ungkap Tito, Minggu (13/7/2017).

Kali ini, BEI membuat dari fosil kayu pohon, yang ditemukan pada ke dalaman 30 meter dari permukaan tanah. Dia mengharapkan, peran Banteng Wulung bisa menjaga pasar modal di Indonesia tetap bullish sehingga kesejahteraan semakin merata.

Banteng Wulung ini bukanlah banteng pertama yang berada di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI juga meletakkan banteng-banteng di dalam gedung dan di beberapa pintu masuk BEI. Namun, Banteng Wulung ini menjadi garda terdepan gedung BEI dengan berat hingga 7 ton.



Source link