Bisnis.com, JAKARTA–Pemerintah siap memutuskan penggabungan perusahaan pelat merah sektor farmasi yakni PT Indofarma (Persero) Tbk. dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. pekan ini.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan rencana penggabungan BUMN farmasi menjadi sebuahholding akan menjadi prioritas pemerintah.

“Itu salah satu yang kita harus kembangkan ke depan untuk kepentingan masyarakat. Nanti, detilnya akan selesai setelah hari Rabu,” ungkapnya, Senin (8/12/2014).

Holding BUMN Farmasi memang telah direncanakan sejak 2005 lalu melalui program rightsizing BUMN. Rencananya, Kimia Farma akan menjadi holding bagi BUMN farmasi.

Direktur Utama Indofarma Arif Budiman mengaku sejauh ini proses menuju merger dengan Kimia Farma mulai berjalan sesuai rencana, ditandai dengan kerjasama pemasaran produk.

“Selama ini memang sudah ada disebutkan wacara penggabungan Indofarma dengan Kimia Farma. Sebenarnya wacara itu benar, kami sudah memulai kerjasama pemasaran produk,” ungkapnya baru-baru ini.

Menurutnya, merger antara emiten berkode saham INAF dan KAEF itu diyakini akan menciptakan sebuah perusahaan farmasi BUMN dengan skala permodalan yang sangat besar.

Hingga kuartal III/2014, Indofarma memang masih membukukan kerugian hingga Rp35 miliar. Namun, perseroan optimistis bisa membalikkan keadaaan dan mengincar laba Rp1 miliar pada akhir tahun.

Sementara itu, tahun depan kinerja perseroan diperkirakan semakin moncer dengan target penjualan Rp1,7 triliun dan laba Rp40 miliar.

Adapun, kinerja Kimia Farma sepanjang 9 bulan pertama tahun ini cukup menggembirakan. KAEF berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih paling tinggi di antara emiten farmasi lainnya. Nilainya mencapai Rp145 miliar atau naik 19,64% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak Rp121,20 miliar.

This entry passed through the Full-Text RSS service – if this is your content and you’re reading it on someone else’s site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Bisnis.com